Random Post: [Jokes] About your Jobs
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Lirik Lagu
  • SITE MAP
  •  



    Link di atas merupakan iklan yang isinya di luar tanggung jawab saya

    [Review] Debat Capres Ke Tiga (Debat ke Lima Capres dan Cawapres)

    Share on Facebook

    Hari ini dilaksanan debat Capres ke-3 yang juga merupakan sesi Putaran terakhir debat Capres terakhir. Debat dengan tema “NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah” yang di moderatori oleh Prof. Dr. Pratikno dan di adakan di Balai Sabrini pada tanggal 2 Juli 2009 ini memiliki perubahan aturan lagi. Kali ini sesi pendalaman di mana moderator memberikan pertanyaan dan dijawab masing-masing Capres di hilangkan.

    Acara debat Capres Putaran ke-3 ini seperti biasa di mulai dengan memperkenalkan sosok moderator, Prof. Dr. Pratikno. Setelah itu acara di lanjutkan dengan sambutan dari pihak KPU. Saya sendiri kurang memperhatikan kedua bagian ini.

    Setelah selesai basa basinya, masing-masing Capres-pun di persilakan untuk naik ke atas panggung. Di mulai dengan Ibu Megawati, dilanjutkan dengan Pak Susilo Bambang Yodhoyono ( SBY ) dan terakhir Pak Jusuf Kalla ( JK ) sesuai dengan nomer urut masing-masing Capres.

    Sesi pertama dari debat adalah sesi visi dan misi. Ada yang unik di sesi visi dan misi kali ini di mana Pak Jusuf Kalla ( JK ) menyerang Pak SBY dengan mengatakan bahwa iklan Pak SBY tentang pemilu satu putaran adalah menilai demokrasi dengan uang. Pak JK mengatakan jika sekarang Pak SBY buat iklan pemilu 1 putaran saja untuk menghemat 4 Trilyun, nanti di 2014 Pak SBY akan membuat iklan lagi tidak usah ada pemilu saja untuk menghemat 25 Trilyun.

    Lucu juga (walau sedikit provokatif), hehehe. Bahkan sampai-sampai moderatornya mengatakan, belum sesi debat sudah ada debat. Tentu saja hal ini kemudian di jawab oleh Pak SBY yang mengatakan bahwa iklan pemilu 1 putaran bukanlah hanya untuk Pak SBY saja melainkan untuk semua Capres. Tambahan bahwa setelah debat tentang hal ini kedua capres saling bersalaman menandakan bahwa tidak ada rasa sakit hati di antara mereka.

    Bagian terakhir dari debat bukanlah penutup (walaupun pentutup memang ada) melainkan sebuah pernyataan Pamungkas yang menanyakan Apa yang para Capres tersebut akan lakukan jika mereka gagal menjadi Presiden nanti. Serukan???

    Biar lebih seru silakan baca kliping di bawah ini saja.

    Ok langsung aja masuk ke sesi visi dan misi:

    Ibu Megawati ( source : kompas.com )

    Megawati: Pancasila Pengayom Bangsa

    FX ISMANTO
    Megawati Soekarnoputri

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 20:08 WIB
    JAKARTA, KOMPAS.com — Capres yang diusung PDI-P, Megawati Soekarnoputri, membuka debat capres, Kamis (2/7) malam ini, dengan pemaparan visi, misi, dan strategi yang diusungnya.

    Megawati mengawali pemaparannya dengan menyinggung awal cita-cita kemerdekaan Indonesia yang telah digemborkan sejak masa Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, serta puncaknya adalah saat perwujudan proklamasi yang diproklamirkan tahun 1945. “Waktu itu pemimpin mewujudkan kemerdekaan dengan proklamator Bung karno dan Bung Hatta. Di situ pula awal Pancasila,” ujar Mega, di Balai Sarbini, Jakarta.

    Ia menyebut Pancasila sebagai pemersatu yang mengayomi kehidupan bangsa sehari-hari. Pancasila penting mengingat kondisi NKRI yang heterogen, negara kepulauan, serta diapit dua samudra besar.

    Mega melanjutkan, demokrasi yang dimiliki bangsa Indonesia, berasas kekeluargaan dan kegotongroyongan. “Namun, sepertinya kita sudah kehilangan jati diri kita. Marilah kita kembalikan kegotongroyongan agar mewujudkan otonomi daerah yang baik,” katanya.

    Seperti biasanya, Mega juga menyinggung jargon yang diusungnya, yakni ekonomi kerakyatan yang merupakan suatu tonggak kehidupan bangsa di masa yang akan datang. “Founding father kita sangat menghendaki kehidupan yang berbangsa. Itu akan membawa bangsa kita mandiri,” tuturnya.

    Sebagai pamungkas, Mega berharap dengan debat capres ini, rakyat Indonesia terbuka matanya dan melihat perbedaan visi dan misi yang diusung capres dan cawapres sehingga dapat memilih dengan tepat nantinya.

    Pak SBY ( Source : kompas.com )

    SBY: Transformasi Bangsa Tidak seperti Membalikkan Telapak Tangan

    KOMPAS/ALIF ICHWAN
    Susilo Bambang Yudhoyono.

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 20:09 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

    JAKARTA, KOMPAS.com — Calon presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengatakan, transformasi suatu bangsa tidak seperti membalikkan telapak tangan. Terjadi dengan segera dan dalam waktu yang cepat. Oleh karena itu, menurutnya, perlu ada kinerja yang berkesinambungan.

    “Sudah kita kerjakan tapi menyisakan pekerjaan rumah. Transformasi itu membutuhkan waktu, proses tidak seperti membalikkan telapak tangan, tapi kita sudah bergerak ke arah yang baik,” demikian klaim SBY dalam sesi pemaparan visi dan misi pada debat capres terakhir, Kamis (2/7).

    Terkait implementasi demokratisasi, SBY mengatakan, Indonesia perlu mengevaluasi kembali apakah dalam demokratisasi, sistem kabinet presidensiil masih bisa ditegakkan meski di tengah sistem multipartai. Dari segi rakyat, apakah rakyat makin sadar untuk berpartisipasi secara politik. Ia menilai bangsa ini perlu mengevaluasi apakah jumlah partai sudah cukup merepresentasikan pilihan rakyat.

    Untuk otonomi daerah, SBY menyadari bahwa pekerjaan rumah pemerintah daerah pun belum sempurna. Mulai dari pemekaran sejumlah daerah yang masih jalan di tempat hingga tumpang tindihnya peraturan pusat dan daerah.

    “Bagaimana kita meningkatkan sumber daya alam untuk pembangunan daerah tertinggal, pulau terdepan dan daerah perbatasan,” tuturnya.

    Semua ini akan menjadi prioritas yang akan dikerjakan jika dirinya dan Boediono terpilih sebagai pemimpin dalam pilpres mendatang. SBY menyatakan, dirinya sangat optimistis untuk meneruskannya.

    Pak JK ( Source : kompas.com )

    JK Buka Debat dengan Menyindir Iklan Satu Putaran

    KOMPAS/AGUS SUSANTO
    Jusuf Kalla

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 20:09 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

    JAKARTA, KOMPAS.com - Capres Partai Golkar, Jusuf Kalla, tampaknya benar-benar memanfaatkan kesempatan debat terakhir capres untuk melancarkan serangan atas manuver lawan, khususnya SBY. JK menyindir iklan “Pilpres Satu Putaran” yang gencar dipublikasikan kubu SBY-Boediono. Bagi dia, proses demokrasi bukan semata mengejar kemenangan.

    “Demokrasi untuk kesejahteraan rakyat juga, bukan hanya tujuan. Demokrasi harus dijalankan sebaik-baiknya agar hak rakyat bisa dijalankan. Saya menyesal, kalau ada yang menilai demokrasi dengan uang,” kata JK, pada debat capres, di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis (2/7) malam.

    Sejurus kemudian, ia memiringkan badan ke arah SBY, dan berkata, “Maaf Pak SBY, iklan bapak agar pilpres satu putaran karena berbiaya 4 triliun, itu artinya memandang demokrasi dengan uang. Demokrasi itu berdasarkan program, kekokohan, bukan kemenangan. Saya khawatir, sekali kalau ini terjadi, pada tahun 2014 nanti ada iklan ‘Lanjutkan terus tanpa pilpres’,” ujar JK, disambut tepuk tangan audiens.

    Sebelumnya, ia berpendapat, demokrasi berfundamen rasa adil dan tidak boleh dilakukan dengan menghalalkan segala cara.

    Terkait NKRI, ia tetap berpegangan merupakan harga mati. JK juga sempat kembali mengeluarkan klaimnya atas penyelesaian konflik di Ambon, Poso dan Aceh.

    Setelah ini langsung masuk ke sesi debat.

    Kliping #1 ( source : kompas.com )

    Mega Gugat Karut Marutnya DPT, SBY Menjawab

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 20:32 WIB
    JAKARTA, KOMPAS.com - Masalah karut marutnya Daftar Pemilih Tetap (DPT) diboyong dekan Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) debat Pratikno selaku moderator debat capres, yang berlangsung di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis (2/7) malam. Pada sesi kedua, Pratikno melemparkan pertanyaan bagaimana membenahi masalah DPT kepada kandidat presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

    SBY yang malam ini megenakan batik berwarna merah menjawab, sejauh ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) beserta jajarannya telah berusaha untuk memperbaiki masalah DPT dalam pileg lalu. “Mudah-mudahan bisa menjawab dengan baik. Sekarang KPU dan jajajarannya dibantu parpol terus memastikan DPT ini dapat berjalan dengan baik,” paparnya.

    Ia melanjutkan, dalam pelaksanaan pemilu yang terpenting adalah mendorong agar partisipasi pemilih dalam pemilu terus meningkat.

    Jawaban SBY tersebut didebat JK. JK mengatakan hak politik bagi warga tidak hanya DPT. Menurutnya, yang pokok adalah menjamin hak-hak rakyat dalam menyampaikan aspirasi. Untuk itu, penting memperhatikan kinerja DPR serta DPRD agar dapat membawwa aspirasi rakyat.

    “Kedua, kebebasan pers yang baik dan terhormat. Yang dapat menampung dan menyampaikan aspirasi masyarakat,” tuturnya.

    Adapun Mega mendebat SBY dengan membandingkan pelaksanan pemilu tahun ini dnegan tahun 2004 lalu, dimana Mega menjadi Presiden. “Pada tahun 2004 tidak ada kejadian seperti sekarang. DPT belum selesai sampai sekarang. Tahun 2004 lebih baik,” tegasnya.

    Kliping #2 ( Source : kompas.com )

    Masalah Pilkada, Salah di Mana?

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 20:37 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

    JAKARTA, KOMPAS.com - Ketiga calon presiden Indonesia memiliki pandangan berbeda terkait permasalahan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dalam kehidupan bernegara. Perbedaan ini terungkap dalam debat capres putaran terakhir yang berlangsung di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis (2/7).

    Calon presiden Jusuf Kalla menyatakan masalah Pilkada terkait dengan politisasi birokrasi yang terjadi. Untuk mengatasinya, JK menilai bahwa penggabungan pelaksanaan Pilkada menjadi solusi yang tepat.

    Dalam kesempatan kedua, capres Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa masalah Pilkada terkait dengan kesalahan pemerintahan di masa silam yang tidak membuka akses partisipasi rakyat untuk memperoleh pendidikan politik. Bagi Mega, rakyat tak dapat disalahkan. “Sepanjang 30 tahun, rakyat tidak diikutsertakan dalam demokrasi. Akibatnya mereka tak mendapatkan pendidikan politik yang konkrit dan ada pula kecurangan dengan intimidasi,” tutur Mega.

    Sementara itu, capres SBY menilai Pilkada yang baik tergantung pada kepatuhan seluruh pihak, termasuk pemerintah Daerah untuk mengikuti Peraturan Pemerintah yang ditetapkan. Selain itu, perlu juga adanya merit system untuk yang berprestasi serta check and balances dari dewan legislatif.

    Kliping #3 ( Source : kompas.com )

    Ragam Pandangan Capres soal Otonomi Daerah

    Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla.

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 20:48 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

    JAKARTA, KOMPAS.com — Ketiga calon presiden, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla, memiliki pandangan beragam mengenai kelangsung otonomi daerah, seperti pertanyaan yang diajukan moderator, Pratikno. Tidak sepenuhnya berbeda, tidak pula berpandangan sama.

    Mega mengatakan, saat memasuki masa reformasi, terdapat euforia berbagai daerah yang minta dimekarkan. Pemekaran, menurutnya, harus melihat potensi wilayah dan jumlah penduduk di daerah tersebut.

    “Tapi kenyataannya, selama ini kurang melihat potensi daerahnya. Daerah yang dimekarkan, pasti terpisah dari induknya. Kalau tidak punya sumber daya alam bagaimana?” kata Mega, pada debat capres, di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis (2/7) malam ini.

    Ia menyarankan, sebaiknya dimasukkan pasal baru pada UU Otonomi Daerah mengenai tata kelola mengenai potensi daerah. Aturan ini, menurut Mega, akan menjadi solusi jika suatu saat ada daerah yang gagal setelah dimekarkan. Jika tidak, ia melihat ada potensi pemiskinan daerah.

    Menanggapi pandangan Mega, SBY berpendapat solusi tersebut sudah diatur. Pilihannya tetap sebagai daerah pemekaran atau digabungkan. SBY mengakui, ada pemekaran yang sukses dan ada yang tidak sukses.

    “Saya pernah mengatakan moratorium, melakukan evaluasi, kita bisa membuat grand design, berapa jumlah kabupaten/kota yang efektif dengan jumlah pendudukan yang ada,” kata SBY.

    Sementara JK mengatakan, kebablasan atau tidaknya otonomi daerah dilihat dari berbagai sudut. Ia menekankan, pemekaran daerah harus bisa menyejahterakan rakyat.

    “Jangan pemekaran karena emosional saja, tidak memandang kesejahteraan rakyat. Saya setuju untuk dievaluasi, misalnya dalam 10 tahun,” ujar JK.

    Kliping #4 ( source : vivanews.com )

    SBY: Iklan Satu Putaran Bukan Milik Saya
    Meski begitu, SBY mempertanyakan logika JK. Di satu sisi dukung hemat, di satu sisi tidak.
    KAMIS, 2 JULI 2009, 20:21 WIB
    Arfi Bambani Amri, Mohammad Adam

    Megawati, SBY, dan JK di Debat Capres (ANTARA/Saptono)

    VIVAnews - Di sela-sela sesi pertanyaan mengenai politisasi birokrasi, calon presiden 2009-2014 Susilo Bambang Yudhoyono menyempatkan diri mengklarifikasi kecaman calon presiden Jusuf Kalla. SBY menyatakan, iklan pemilihan satu putaran bukan dari dia.

    “Masih ada 30 detik, saya ingin menjawab yang soal iklan tadi,” kata SBY dalam Debat Calon Presiden 2009 di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis 2 Juli 2009. “Iklan yang Bapak (Jusuf Kalla) maksud, bukan iklan Pak SBY,” ujarnya.

    Terlepas dari itu, SBY agak mempertanyakan logika kecaman JK itu. “Di satu sisi kita harus hemat biaya, di satu sisi uang tidak ada masalah. Intinya demokrasi, ya demokrasi, intinya ada kontrol dan akuntabilitas keuangan,” kata SBY.

    JK yang mendapat giliran bicara setelah SBY juga tak menyia-nyiakan kesempatan merespons pernyataan SBY itu. “Saya berterima kasih Pak SBY. Jadi yang beriklan bukan peserta, kalau begitu iklannya ilegal,” kata JK.

    Sebelumnya JK mengecam iklan pemilihan satu putaran dengan alasan menghemat Rp 4 triliun. Jelas, lanjut JK, pemikiran yang menghitung demokrasi dalam ukuran uang seperti itu bisa berbahaya. “Saya mohon maaf, nanti 2014, saya khawatir ada iklan lanjutkan terus tanpa Pilpres demi menghemat Rp 25 triliun,” kata JK.

    Kliping #5 ( source : kompas.com )

    Usai “Ribut” soal Iklan, SBY-JK Salaman dan Berangkulan Lho…

    KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 20:41 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

    JAKARTA, KOMPAS.com — Adegan yang satu ini mungkin tak disaksikan oleh Anda yang menyaksikan tayangan debat capres terakhir di layar televisi. Sesi kedua pendalaman, jawab-menjawab soal iklan satu putaran yang gencar dilancarkan kubu SBY-JK mulai ‘memanas’.

    SBY membantah sentilan JK, yang khawatir dengan iklan tersebut. “Iklan satu putaran, bukan iklan saya,” kata SBY.

    Jawaban ini diterima dengan baik oleh JK. “Ya sudah, kalau itu bukan iklan Pak SBY, saya terima kasih. Karena bisa saja saya atau Bu Mega yang menang satu putaran,” kata JK santai sambil tersenyum.

    Setelah sesi kedua pendalaman ini berakhir, dilanjutkan dengan iklan komersial break. Sesaat kemudian, JK mendatangi SBY, saling tertawa dan merangkul pundak satu sama lain.

    Menurut pakar komunikasi politik Ibnu Hamad, serangan JK yang langsung direspons SBY membuat debat final semakin hidup.

    “Debat final ini semakin seru dengan saling menyerang dan merespons,” ujar Ibnu kepada Kompas.com.

    Ah, panas di layar, “adem” di belakang. Bukan begitu Bapak-bapak?

    Kliping #6 ( Source : kompas.com )

    KB, Otonomi Daerah, Pengelolaan Lingkungan Hidup Jalan Terus

    KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 21:02 WIB
    JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga kandidat capres dihadapkan pada sederet persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian di masa pemerintahan mendatang. Persoalan yang dilontarkan moderator debat capres Pratikno, yakni Otonomi daerah, Keluarga Berencana (KB), pengelolaan lingkungan hidup dan masalah perumahan rakyat.

    “Saya tidak melihat pentingnya penarikan kembali kebijakan hal-hal tersebut diatas,” jawab SBY, saat debat capres, di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis (2/7). Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah masalah implementasinya. Seperi masalah otonomi daerah yang dinilai lebih efektif dibandingkan sentralisasi kanrena mampu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah. “Yang penting Kita lakukan evaluasi yang jernih mana yang kurang,” ujarnya.

    Capres JK mengaku setuju dengan pendapat SBY. Ia menambahkan perlu dibuat standar untuk masing-masing daerah. “Daerah diberi standar tertentu. Dengan standar itu kita bisa membuat koreksi, kita beri dana yang cukup sehingga dapat membantu,” tuturnya.

    Lain lagi dengan capres Megawati. Ia memulai pemaparannya mengenai KB, Menurutnya, pemberlakukan kebijakan KB untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. “Perlu dijelaskan kalau KB itu untuk kesejahteraan. Kalau tidak dijelaskan itu membuat orang berpikir kalau KB hanya menyetop ibu-ibu untuk berproduksi,” jelasnya.

    Menaggapi pernyataan dua lawan politiknya, SBY yang mempunyai waktu 1 menit memaparkan pendapatnya. “Saya sependapat dengan bu Mega. KB kaitannya dengan kesejahteraan. Tapi saat ini keikutsertaan KB semakin meingkat dari tahun ke tahun,” pungkasnya.

    Kliping #7 ( Source : Kompas.com )

    JK: Kesempatan Menang Satu Putaran Milik Semua

    KOMPAS/AGUS SUSANTO
    Jusuf Kalla

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 20:42 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

    JAKARTA, KOMPAS.com — Capres Jusuf Kalla meminta klarifikasi kepada capres SBY mengenai iklan “Pemilu Satu Putaran” yang berseliweran di berbagai media. Ketika diberi kesempatan klarifikasi, SBY mengatakan bahwa itu bukanlah iklan mengenai dirinya.

    “Itu bukan iklan saya,” tegas SBY dalam debat capres putaran akhir di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis (2/7). Artinya, SBY mengelak bahwa pihaknya mendorong pemenangan satu putaran.

    “Terima kasih Pak SBY kalau mengatakan iklan itu bukan milik Pak SBY. Silakan berdemokrasi. Tapi kalau satu putaran, bisa saya, Bu Mega atau Bapak,” tutur JK disambut tawa penonton.

    SBY menyatakan bahwa iklan “Pilpres Satu Putaran” bukanlah iklan pribadi SBY, tetapi ajakan untuk menghemat biaya pemilu. SBY juga sempat menyebut iklan tersebut sebagai iklan yang baik.

    Kliping #8 ( Source : Kompas.com )

    KB, Otonomi Daerah, Pengelolaan Lingkungan Hidup Jalan Terus

    KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 21:02 WIB
    JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga kandidat capres dihadapkan pada sederet persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian di masa pemerintahan mendatang. Persoalan yang dilontarkan moderator debat capres Pratikno, yakni Otonomi daerah, Keluarga Berencana (KB), pengelolaan lingkungan hidup dan masalah perumahan rakyat.

    “Saya tidak melihat pentingnya penarikan kembali kebijakan hal-hal tersebut diatas,” jawab SBY, saat debat capres, di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis (2/7). Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah masalah implementasinya. Seperi masalah otonomi daerah yang dinilai lebih efektif dibandingkan sentralisasi kanrena mampu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah. “Yang penting Kita lakukan evaluasi yang jernih mana yang kurang,” ujarnya.

    Capres JK mengaku setuju dengan pendapat SBY. Ia menambahkan perlu dibuat standar untuk masing-masing daerah. “Daerah diberi standar tertentu. Dengan standar itu kita bisa membuat koreksi, kita beri dana yang cukup sehingga dapat membantu,” tuturnya.

    Lain lagi dengan capres Megawati. Ia memulai pemaparannya mengenai KB, Menurutnya, pemberlakukan kebijakan KB untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. “Perlu dijelaskan kalau KB itu untuk kesejahteraan. Kalau tidak dijelaskan itu membuat orang berpikir kalau KB hanya menyetop ibu-ibu untuk berproduksi,” jelasnya.

    Menaggapi pernyataan dua lawan politiknya, SBY yang mempunyai waktu 1 menit memaparkan pendapatnya. “Saya sependapat dengan bu Mega. KB kaitannya dengan kesejahteraan. Tapi saat ini keikutsertaan KB semakin meingkat dari tahun ke tahun,” pungkasnya.

    Kliping #9 ( Source : Kompas.com )

    Mega “Serang” SBY Soal Wilayah Perbatasan

    KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 21:18 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

    JAKARTA, KOMPAS.com - Menjaga kedaulatan di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar, menjadi salah satu sub bahasan yang ditanyakan oleh moderator debat capres terakhir, Pratikno, Kamis (2/7) malam, di Balai Sarbini, Jakarta. Menjawab pertanyaan ini, Mega mulai ‘menyerang’ SBY, meski dengan pilihan kata dan gaya bahasa yang sangat halus.

    Sebagai calon incumbent, SBY memaparkan bahwa pemerintah sudah berupaya membangun IT di daerah perbatasan dan pulau terluar agar mempermudah komunikasi. “Untuk kawasan perbatasan, tahun-tahun terakhir ini kita melakukan pembangunan, komunikasi terus kita lakukan. Transportasi kita tingkatkan, begitu pula ekonomi dan sosialnya. Diplomasi kita harus keras. Tapi kita bikin mereka nyaman sebagai bangsa Indonesia,” kata SBY.

    Bagi Mega, melihat perbatasan tidak bisa hanya sebatas pembangunan IT. “Pak SBY, perbatasan tidak bisa IT saja. Kita harus melihat realitas kehidupan warga di perbatasan. Kalau lihat di peta hanya garis lurus. Tapi kita harus melihat dimana tonggak penjagaan. Saat ini, belum banyak dijalankan, sehingga banyak yang masuk,” ujar Mega.

    Mega menekankan wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar seharusnya bisa dijaga dengan baik guna mempertahankan kedaulatan bangsa. SBY sendiri menjamin, bahwa penyelesaian sengketa tidak akan diserahkan kepada pihak lain, seperti halnya ketika sengketa Timor Timur dan Sipadan Ligitan.

    Sedangkan JK, memandang, untuk memimpin kedaulatan negara, dibutuhkan pemimpin yang tegas dan kuat, serta berkeadilan. “Ke depan, kita harus ada sertifikasi dan tanda di semua pulau yang ada. Kita minta, kita punya TNI AL yang kuat,” kata JK.

    Kliping 10 ( Source : Kompas.com )

    JK: Siapapun Boleh Memimpin Bangsa Ini

    KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
    Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 21:20 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

    JAKARTA, KOMPAS.com - Calon presiden Jusuf Kalla sekali lagi ‘menyentil’ capres SBY. Kali ini, terkait pernyataan anggota Tim Sukses SBY-Boediono, Andi Malarangeng, beberapa waktu lalu bahwa orang dari Sulawesi belum pantas untuk menjadi pemimpin bangsa Indonesia.

    “Siapapun boleh memimpin bangsa ini. Pandangan bahwa salah satu suku tidak boleh menjadi pemimpin adalah berbahaya karena itu membawa kembali ke jaman rasialis. Indonesia itu adalah satu dan kita harus bela bangsa ini,” tutur JK dengan nada meninggi dalam sesi pertanyaan kelima Debat Capres terakhir di Balai Sarbini, Kamis (2/7).

    Menurut JK, kekuatan bangsa ini justru terletak pada keragamannya dari segi etnis, budaya dan agama di mana setiap perbedaan dihormati dan masyarakat hidup dalam toleransi. “Kekuatan bangsa ini pada perbedaan karena itulah lambang di atas gambaran presiden dan wapres adalah Bhineka Tunggal Ika. Kiri dan kanan (gambar presiden dan wapres) boleh berganti tapi di atasnya enggak ganti,” tutur JK.

    JK meminta semua pihak tidak berpikir picik, tapi mengembangkan pikiran yang jernih untuk menjalin kebersamaan yang membuat bangsa Indonesia menjadi kuat.

    Lebih jauh, dalam perspektif nasionalisme itu JK memandang perlunya menetapkan status kepegawaian nasional di mana para pegawai golongan empat dari manapun bebas dipindahtugaskan ke segala daerah.

    Capres Megawati yang diberi kesempatan untuk menanggapi menunjukkan persetujuannya terhadap pendapat JK. “Untuk penjelasan ini saya 100 persen sama Pak JK,” tutur Mega.

    Sementara itu, capres SBY yang berada dalam posisi didebat enggan berpolemik. Dirinya hanya mengatakan setuju bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika penting sebagai perekat keragaman bangsa. “Saya setuju,” tutur SBY.

    Di akhir klarifikasi, JK meminta SBY dan Mega yang mengaku sepakat dengannya tidak hanya sepakat dalam hati tapi nyata dalam perbuatan.

    Kliping 11-> Pertanyaan Pamungkas ( Source : Kompas.com )

    Kalau Kalah, Mega Mengabdi, SBY Ucapkan Selamat, JK Pulang Kampung

    KAMIS, 2 JULI 2009 | 21:30 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

    JAKARTA, KOMPAS.com - Debat terakhir calon presiden, ditutup moderator, Pratikno, dengan satu pertanyaan pamungkas, “Apa yang akan dilakukan jika kalah dalam pertarungan Pilpres 8 Juli mendatang?”. Pertanyaan yang mengejutkan, karena dilontrakan di saat injury time usai semua calon menyatakan pidato penutup, tapi cukup menarik didengar jawabannya.

    Meski diberi waktu 30 detik, capres PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengeluarkan jawaban singkat. Putri proklamator, Soekarno itu, bertekad tetap mengabdi pada bangsa. “Saya akan terus mengabdi dan untuk bangsa Indonesia,” kata Mega.

    Pilihan lain, diambil Susilo Bambang Yudhoyono. Capres Partai Demokrat itu memilih mengucapkan selamat sebagai aksi pertama jika kalah. “Saya akan mengucapkan selamat kepada yang menang dan saya akan mendukung siapapun pemerintahan yang terpilih,” ujar SBY, yang masih menjabat Presiden ini.

    Capres Partai Golkar, Jusuf Kalla, seperti biasa melontarkan jawaban yang mengundang tawa. “Yang terbaik pasti menang. Saya akan menghormati yang terbaik, termasuk jika saya yang terbaik. Kalau bukan, saya akan pulang kampung untuk mengurus pendidikan dan mengelola masjid,” kata JK.

    Ok gitu aja, selamat memilih tanggal 8 Juli 2009, semoga yang terbaik menang. Ingat jika Jagoan Anda kalah, harap berbesar hati untuk menerimanya.

    Ada cacian, makian, kritik dan saran??? Tuangkan di sini, asal jangan spam aja :P

    Masukan Verifikasi image dengan memasukan kata yang ada di kotak hitam (tanpa spasi) ke kotak di bawah ini :

    monyet

    Johan Firdaus Blog