Ringkasan Novel Legend Of Condor Heroes : Chapter 1 – 4
Ada yang kenal dengan Jin Yong? Jin Yong adalah pengarang Novel terkenal dari China. Dari sekian banyak novelnya, yang paling terkenal adalah Trilogi Condor Heroes, yang terdiri dari tiga novel dengan judul:
* Legend Of Condor Heroes / Eagle Shooting heroes / Legenda Pendekar Rajawali
* Return Of Condor Heroes / Kembalinya Sang Pendekar Rajawali / Divine Eagle, Gallant Knight
* Heaven Sword, Dragon Slaying Sabre / Pedang Langit & Golok Naga
Dari semua judul diatas, filmnya sudah pernah ditayangkan di televisi indonesia.
Dalam kesempatan kali ini, gw akan coba meringkas cerita Novel ini, karena walau Novelnya ceritanya bagus, tapi sampai saat ini gw belum pernah liat versi indonesianya ada. Yang ada hanya versi inggris dan mandarin aja. Jadi gw coba untuk meringkas novel Legend Of Condor Heroes ini, dan menginfokan kepada Anda-anda semua tentang betapa bagusnya novel karangan Jin Yong ini. Ringkasan cerita ini gw buat berdasarkan film Legend Of Condor Heroes 2003 (Yang dulu pernah ditayangkan transtv) dan Novel translate-an wuxipedia, http://wuxiapedia.com. Mengingat kemampuan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris gw yang terbatas, mohon dimaafkan jika ringkasan gw ini tidak jelas dan membingungkan.
Hu hu hu
Kali ini gw coba ringkas dulu untuk Chapter 1 s.d. 4, silakhan di nikmati…. kalo mau yang chapter 5, ada di chapter 5.
Cerita Legend of Condor Heroes bersetting di Jaman Dynasty Song Selatan, dimana bagian utara China (Song) sudah di rebut oleh Negri Jin. Pejabat-pejabat China saat itu sangat corrupt, sehingga akhirnya mereka terus bisa didesak negri Jin.
Ceritanya novel ini di mulai ketikan seorang Pendeta dari Sekte Quanzhen, pendeta Qiu Zhuji membunuh pejabat korup. Di perjalanan kembalinya, pendeta Qiu menemui dua orang Saudara angkat, Yang Tiexin dan Guo Xiaotian. Karena merasa bahwa kedua orang tersebut adalah orang yang loyal terhadap negara, maka pendekar Qiu berteman dengan mereka. Melihat bahwa istri masing-masing sodara angkat itu sedang hamil maka ia menghadiahkan masing-masing 1 buah pisau untuk anak mereka. Akhirnya kedua orang tua tersebut memutuskan, jika nanti anak mereka yang lahir adalah sesama jenis kelamin, maka akan di jadikan saudara angkat, sedangkan jika mereka adalah berbeda kelamin akan dinikahkan.
Lalu pendeta Qiu diminta mereka untuk memberikan nama untuk anak mereka, dan diputuskanlah bahwa anak Guo Xiaotian adalah Guo Jing (Dulu di film indonesianya, jaman Return Of Condor Heroes yang dimainnin di Indosiar, Guo jing di lafalin dengan nama Kwe Ceng) dan anak dari Yang Tiexin adalah Yang Kang (Kalo orang indo jaman dulu bacanya Yo Kang ), dan jika disatukan, maka nama mereka adalah Jingkang, seorang pahlawan negri mereka. Lalu Pendeta Qiu menuliskan nama masing-masing Anak di pisau yang dia berikan tadi. Setelah itu, pendeta Qiu pun pergi untuk menghadiri pertemuan sektenya. Setelah Pendeta Qiu pergi Guo dan Yang lalu menukar pisau mereka, karena anak mereka nantinya akan menjadi saudara angkat atau suami istri.
Beberapa hari kemudian, pada suatu malam, rumah Yang Tiexin dimasuki oleh seseorang yang terluka. Istri Yang Xietin, Bao Xiruo menyelematkan orang tersebut. Dia meninggalkannya di dapur. Tetapi pada pagi harinya orang tersebut sudah menghilang.
Beberapa hari kemudian, rumah Yang Tiexin kedatangan tentara Song. Tentara tersebut dipimpin oleh Duan Tiande. Duan bertujuan untuk menangkap Yang Xieting dan Guo Xiaotian, perkelahian pun tak terelakan. Akhirnya perkelahian itu dimenangkan oleh Duan dan tentaranya, sementara Guo Xiatian tewas, dan Yang Xieting jatuh ke jurang.
Istri-istri mereka akhirnya di bawa oleh Duan Tiande, tetapi ditengah perjalan, istri Bao Xiruo di selamatkan oleh orang yang dia selamatkan sebelumnya.
Sementara itu, pendeta Qiu yang saat itu datang kekediaman Yang Xietin terkejut melihat rumah mereka terbakar dan menemukan mayat dari Guo Xiaotian. Pendeta Qiu akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan istri mereka dan mengajarkan ilmunya kepada anak-anak mereka.
Duan Tiande yang tau bahwa dia sedang dikejar-kejar oleh pendekar Qiu akhirnya bersembunyi di sebuah kuil milik pamannya, Jiaomu. Tentu saja, Duan Tiande tidak memberitahukan pamannya bahwa dia membawa istri Guo Xiaotian (Li Ping) kepada Jiaomu.
Pendekar Qiu akhirnya pergi mendatangi kuil Jiaomu. Karena merasa bahwa pendeta Duan tidak bersalah, Jiaomu menolak untuk menyerahkan Duan. Akhirnya pendekar Qiu menyerang Jiaomu dan mengalahkannya. Pendeta Jiaomu akhirnya memutuskan untuk meminta bantuang dari 7 orang aneh Jiangnan untuk menjadi hakim dalam menentukan siapa yang benar, apakah pendeta Qiu atau Jiaomu.
Pendeta Qiu kemudian bertemu dengan 7 orang aneh Jiangnan, dan pertarunganpun tidak terelakan. Akhirnya baik itu 7 orang aneh maupun Pendeta Qiu terluka. Di saat mereka terluka, Duan Tiande akhirnya muncul. Dia membawa istri Guo Xiaotian. Melihat hal tersebut, Jiaomu murka, tetapi akhirnya dia malah di dorong oleh Duan Tiande, dan kepalanya lalu terpentok dinding dan tewas. Duan Tiande lalu melarikan diri.
Melihat hal ini, 7 Pendekar Jiangnan meminta maaf kepada Pendeta Qiu, karena ternyata mereka salah dan pendeta Qiu benar. Tetapi pertarungan mereka tetap seri, oleh karena itu mereka memutuskan untuk bertarung lagi. Tetapi pertarungan kali ini berbeda, karena mereka memutuskan bahwa mereka harus menemukan istri dari Guo dan Yang. Dimana nantinya 7 Orang aneh harus melatih Anak dari Guo Xiaotian, Guo Jing dan pendeta Qiu harus melatih anak Yang Xientin, Yang Kang. Dan 18 tahun kemudian, kedua anak tersebut akan disuruh bertarung.
Sementara itu, Bao Xiaro akhirnya sadar, bahwa orang yang menolong dia bukan lain adalah seorang Pangeran Jin, Wanyan Hong Lie. Xiruo mencoba bunuh diri, tetapi selalu di cegah oleh Hong Lie. Ia mencegah dengan mengingatkan bahwa Yang Kang masih ada di perutnya dan bahwa dia tidak boleh menghapus garis keturunan keluarga Yang. Akhirnya Xiruo memutuskan untuk ikut Wanyan Hong Lie ke negri Jin.
Sementara nasib istri Guo (Li Ping) tidak sebagus Xiruo. Dia dibawa keutara oleh Duan Tiande, tetapi malang nasib mereka. Di tengah jalan mereka di tangkap oleh tentara Jin. Dan saat ditawan tentara Jin, tentara Jin tersebut diserang. Akhirnya setelah tentara Jin mati semua, Li Ping melahirkan Guo Jing sendirian, dan lalu ia memutuskan untuk pergi ke Utara, menuju kawasan mongolia. Sementara itu Duan Tiande yang pura-pura tewas pada saat tentara Jin di serang, menemukan harta di salah satu mayat pegawai negri Jin yang mengangkapnya.
6 tahun kemudian, di padang rumput mongolia. Guo Jing kecil saat itu sedang mengurus ternak, tanpa sengaja dia melihat pertempuran antara tentara Dewa Panah Jebe dengan Tentara Temujin (Genghis Khan). Pertarungan berlangsung sangat sengit, tetapi akhirnya Dewa Panah harus mengaku kalah dan melarikan diri.
Kuda dewa panah akhirnya membawa dirinya ke depan Rumah Guo Jing. Guo Jing yang saat itu ibunya sedang pergi, akhirnya menolong Jebe. Dia memberikan minum dan menyembunyikan Jebe. Tidak lama kemudian Tentara Temujin sampai ke Rumah Guo Jing. Mereka mencurigai Guo Jing menyembunyikan Jebe. Tetapi Guo Jing tidak mengakui, walau dia dipukul, di banting dan akhirnya mau di bunuh dia tetap dia mengaku. Akhirnya pedangpun diarahkan ke Guo Jing, tetapi belum sempat pedang itu menyentuh dirinya. Ada pedang lain yang memukul pedang tadi. Jebe menyelamatkannya.
Jebe meminta temujin agar dirinya boleh di hukum mati, tetapi Guo Jing harus di lepaskan. Temujin yang memang tertarik dengan kemampuan Jebe akhirnya mengampuni Jebe, dan Jebe akhirnya bergabung dengan Temujin. Keesokan harinya Jebe datang ke Rumah Guo Jing dan membawa Guo Jing, dan ibunya Li Ping untuk bergabung ke perkemahan Temujin. Mulai saat itu Guo Jing adalah bagian dari perkampungan Temujin, dan Jebe sang Dewa Panah menjadi gurunya.
Suatu saat Perkemahan Temujin di datangi oleh dua pangeran dari Jin. Mereka adalah Wanyan Hong Lie (Pangeran ke-6) dan kakaknya, Wanyan Hongxi (Pangeran ke-3). Tujuan kedatangan mereka adalah untuk menghadiahkan Gelar kepada Temujin, dengan Gelar ini maka Temujin dianggap sebagai Pejabat negri Jin. Hal ini dilakukan oleh Wanyan Jing (Kaisar Jin saat itu) karena dia sudah mendengar kehebatan Temujin, dan bahwa Temujin sekarang sudah menguasai sebagian besar wilayah Padang Rumput di utara China. Untuk mencegah masalah di masa yang akan datang, maka dia menganugerahkan Gelar ini kepada Temujin.
Tetapi, sikap Wanyan Hongxi sungguh meremehkan Temujin, sehingga utusan Jin ini kurang di sukai, sementara Wanyan Hong Lie lebih bisa menjaga sikapnya. Wanyan Hong Lie juga lalu berkata, bahwa dia juga akan menganugerahi Ong Khan Gelar. Ong Khan adalah pemimpin Jurchen, dan juga pemimpin oleh suku-suku yang ada di Padang Rumput, Sukunya adalah suku terkaya, terkuat dan terlebih lagi, dia secara personal adalah orang yang baik. Tidak berlebihan bila orang bilang, dia dihormati oleh semua suku yang ada di padang rumput. Temujin menyambut baik hal ini, tentu saja, karena Ong Khan adalah ayah angkatnya, terlebih lagi setelah ayah Temujin tewas di racun, dia di rawat oleh Ong Khan dan dengan kerja sama dia, Ong Khan dan Sodara Angkatnya Jamuka, dia berhasil membalaskan kematian ayahnya.
Temujin kemudian bertanya apakah Kaisar akan memberikan Gelar lainnya kepada orang lain, dan jawaban dari Hong Lie adalah Tidak. Lalu Temujin mengusulkan agar Jamuka diberikan gelar juga. Tetapi Hong Xi menolak dengan kasar permintaan itu, hal ini membuat kesal bukan hanya Temujin tapi juga Hong Lie.
Di luar kemah, terlihat sekumpulan anak-anak bermain. Guo Jing, Tolui dan adiknya Huazheng, serta beberapa anak lainnya. Guo Jing dan Tolui adalah teman baik. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi saudara angkat (Mongolia menyebut sodara angkat dengan Anda).
Esok paginya, saat rombongan Temujin mau berangkat menuju wilayah Jurchen, tiba-tiba, tim pengintai kembali sambil berteriak bahwa ada tentara Naiman yang memblokir jalan mereka. Jumlahnya sekitar 30.000 orang.
Hong Xie-pun langsung ketakutan saat tau jumlah mereka jauh lebih banyak.
Suku Naiman meminta agar mereka juga diberikan Gelar dari negri Jin dan mereka akan merebut kedua pangeran dari negri jin dari Temujin dan menahan keduanya sampai permintaan mereka dipenuhi oleh Kaisar Jin.
Temujin marah mendengar hal ini dan memutuskan untuk melawan Naiman. Hongxi makin panik dan meminta Hong Lie untuk memberikan saja apa yang di minta oleh Naiman. Tetapi Hong Lie, melihat perlawanan Tentara Temujin memutuskan untuk membantu mereka. Dia mengirimkan tentara Pemanah yang dibawanya untuk menyerang, tetapi karena musuh terlalu Jauh, bantuannya kurang begitu terasa, sementara Hongxi makin panik ketakutan.
Tetapi tiba-tiba muncul tentara Temujin dari kiri Tentara Naiman dan Jamuka dari kanan, dan akhirnya tentara Naiman kalah walaupun jumlah mereka lebih banyak. Setelah itu Temujin membagi harta rampasan perang menjadi 4 bagian, 1/4 untuk kedua Pangeran Jin, 1/4 untuk Ong Khan,1/4 untuk Jamuka dan 1/4 lagi untuk dirinya.
Hongxi akhirnya berhenti panik, tetapi melihat kemenangan ini Hong Lie yang malah menjadi panik. Ia merasa takut. Dia takut karena dia merasa jika Temujin dan Jamuka bersatu, maka mereka akan menjadi masalah besar bagi Negri Jin dimasa yang akan datang. Alasan kenapa sampai saat ini negri Jin aman dari tentara padang rumput adalah karena mereka selalu terpecah belah.
Hal lainnya adalah, bahwa tentara Padang Rumput jauh lebih hebat dari pada tentara negri Jin, hal ini terlihat dari kemampuan mereka melawan Naiman, dimana tentara Jin sama sekali tidak berguna.
Malam setelah pertempuran, Hong Lie meminta untuk dikenalkan dengan Jendral-jendral Temujin. Hanya Empat Jendral yang dikenalkan. Tetapi Hong Lie merasa ada satu orang lagi yang dia liat saat pertempuran merupakan seorang Pahlawan yang luar biasa. Temujin merasa mengetahui orang tersebut lalu memanggil Jhebe, sang dewa panah. Jhebe bukanlah seorang Jendral saat itu, karena dia hanya memimpin sepuluh orang saja.
Jhebe ditawarkan oleh Hong Lie untuk minum arak dari gelas emas, tetapi saat Jhebe mau meminumnya, Senggum anak dari Ong Khan melarangnya. Dia berkata bahwa pemimpin 10 orang tidak berhak untuk minum dari gelas emas. Temujin marah dengan hal ini, tetapi Jhebe akhirnya mengalah dan meniggalkan ruangan. Tak lama kemudian, Temujin juga keluar tenda, dan dia memberikan helmnya sebagai gelas untuk tempat arak Jhebe. Dan Jhebe berkata bahwa bahkan gelas dari permatapun bisa dibandingkan dengan Helm milik Temujin, dan lalu dia meminum arak tersebut.
Esoknya saat Tolui dan Guo Jing bermain-main, mereka bertemu dengan Dukhsh (anak Senggum) dan teman-temannya. Mereka lalu saling menjelek-jelekan ayah masing-masing. Ejek-ejekan itu akhirnya berakhir dengan perkelahian. Melihat perkelahian tidak imbang Guo Jing akhirnya ikut membantu Tolui, dan mereka di hajar habis-habisan.
Lalu tiba-tiba muncul tujuh orang yang memisahkan perkelahian mereka. Ejek-ejekanpun terjadi lagi, kali ini Guo Jing mengeluarkan Pisaunya sambil mengancam Dukhsh, dan akhirnya Dukhshpun pergi. Salah satu dari tujuh orang tadi, melihat pisau Guo Jing lalu mengambil Pisau tersebut. Dia lalu membaca tulisan di gagang pisau tersebut, “Yang Kang”. Guo Jing lalu meminta kembali pisau tersebut.
Pengambil pisau lalu bertanya, siapa nama Ayahmu, tetapi Guo jing tidak ingat nama Ayahnya. Lalu dia bertanya lagi, apakah nama marga dirinya Yang, dan Guo Jing lalu menggeleng. Siapakah Yang Kang, dan Guo Jing menggeleng kembali.
Lalu Tolui memanggil Guo Jing, “Guo Jing, ayo pulang”, mendengar nama Guo jing, salah seorang dari mereka, yang tampaknya buta langsung berlari menghampiri Guo Jing. Dia lalu bertanya, apakah margamu Guo. Apakah kau orang Han (Song) dan bukan orang mongol? Guo Jing lalu mengangguk. Orang tersebut lalu bertanya, siapa nama ibu Guo Jing. Guo Jing menjawab, Ibuku adalah ibuku. Jawaban tersebut membuat orang yang bertanya menjadi kesal. Lalu dia bertanya lagi, bisakah kau membawaku menemui ibumu? Guo Jing menjawab bahwa ibunya tidak ikut ke perkemahang Ong Khan.
Lalu orang itu meminta satu-satunya wanita yang ada diantara mereka untuk menjawab. Wanita itu berjuluk Pedang Perawan Yue dan bernama Han Xiaoying. Dia dan enam sodaranya dikenal sebagai 7 Pendekar Aneh Jiangnan. Ketua mereka adalah orang yang tadi bertanya kepada Guo Jing, yaitu Ka Zhen’E si Kelelawar Terbang. Lalu adik keduanya, Zhu Cong si Cendikiawan Tangan Ajaib , adik ke-3 si Dewa Kuda Han Baoju, adik ke-4 si Pemotong Kayu dari Gunung Selatan Nan Xiren, adik ke-5 si Budha Tersenyum Zhang Ahshseng, adik ke-6 Pahlawan Tersembunyi dari Kota Tersembunyi Quan Jinfa.
Han Xiaoying lalu bertanya di mana Ayah Guo Jing? Guo Jing menjawab ayahnya sudah meninggal dibunuh orang jahat.
Siapa yang membunuhnya? Tanya Ka Zhen’E.
Namanya adalah Duan Tiande. Ibunya Guo Jing yang sadar bahwa kehidupan padang rumput sangat berbahaya, sadar bahwa dia bisa tewas kapan saja, sehingga dia sudah memberitahukan Guo Jing dari kecil siapa yang membunuh ayahnya, sehingga jika suatu saat dia meninggal secara tiba-tiba, Guo Jing tidak kehilangan kesempatan untuk mengetahui pembunuh ayahnya.
Mengetahui bahwa Guo Jing ini adalah Guo Jing yang mereka cari selama 6 tahun ini, untuk memenuhi perjanjian mereka dengan Pendeta Qiu. Maka mereka menawarkan Guo Jing untuk dilatih oleh mereka.
Tetapi Guo Jing menolak karena menurut ibunya dia harus menjauhi perkelahian. Mereka mencoba merayu Guo Jing dengan mengatakan bahwa tadi sebelum dipisahkan, dia akan dikeroyok oleh 8 orang anak kecil yang di pimpin Dukhsh tetapi rayuan itu tidak berhasil. Hingga akhirnya mereka memancing Guo Jing agar dia belajar kung fu untuk membalaskan dendam ayahnya. Akhirnya Guo Jing menyetujuinya.
Tujuh pendekar itu lalu memberikan pelajaran awal kepada Guo Jing dan Tolui juga mengikuti. Berbeda dengan Guo Jing, Tolui sangat cepat paham dengan apa yang di ajarkan tujuh pendekar sementara Guo Jing tampak tidak mengerti dan terlihat bodoh dan lambat.
Setelah latihan, 7 Pendekar meminta Guo Jing untuk datang berlatih sendiri di malam hari, di daerah yang gelap dan menyeramkan. 7 Pendekar sebenarnya sungguh merasa kecewa pada Guo Jing, dan merasa bahwa tidak ada gunanya melatih Guo Jing. Mereka bahkan berkata bahwa lebih baik mereka menyerah saja kepada Pendeta Qiu tetapi Nax Xiren berkata bahwa dia waktu kecil juga bodoh seperti Guo Jing, lebih baik kita lihat dulu keberanian dia, apakah nanti malam dia akan datang atau tidak.
Malamnya mereka menunggu, langit tampak sangat gelap. Guo Jing juga belum datang. Sambil mereka menunggu, Quan Jinfa tanpa sengaja melihat sekelompok tengkorak kepala manusia yang di susun kedalam tiga kelompok. Ekspresi Zhu Cong langsung berubah.
Ka Zhen’E yang buta lalu menebak bagaimana formasi tengkorak-tengkorak tersebut, dan tanpa di duga, dia bisa mengetahui formasi tersebut. Ka Zhen’E lalu sadar bahwa formasi tengkorak ini menandakan bahwa kedua musuhnya tinggal di tempat ini. Dia lalu meminta keenam adiknya untuk meninggalkan tempat tersebut, sedangkan dia sendiri akan tinggal. Karena musuhnya tersebut telah membunuh kakaknya dan membutakan matanya. Kini saatnya dia ingin membalaskan dendam. Dia tau musuhnya telah menguasai jurus 9 Cakar Yin Tulang Putih, jurus yang sangat kuat yang bisa dilihat dari formasi tengkorak yang ada, karena semua tengkorak punya 3 lubang di bagian atasnya.
Musuh Ka Zhen’E adalah sepasang suami istri yang dikenal dengan nama Pembunuh kembar dari Angin Gelap, yang Pria dikenal dengan Julut Chen Xuanfeng si mayat tembaga sementara yang wanita dikenal dengan nama Mei Chaofeng si mayat besi. Mereka adalah murid dari Pemilik Pulau Peach Mekar di Lautan Timur. Mereka telah mencuri kitab milik gurunya dan melatih sendiri kitab tersebut.
Ke enam adik angkatnya tentu saja menolak hal ini, mereka ingin ikut bertarung. Akhirnya di putuskan bahwa mereka akan menjebak musuh mereka ini. Jebakanpun disiapkan.
Akhirnya Mei Chaofeng dan Chen Xuanfeng datang, tetapi sayang jebakan mereka gagal. Perkelahianpun terjadi. Walaupun tujuh lawan dua, tetapi tampaknya Pihak Pembunuh Kembar lebih unggul.
Di saat pertarungan sedang terjadi, Guo Jing akhirnya datang. Han Xuayoin yang melihat Guo Jing datang langsung menangkapnya dan membawanya menjauh dari pertarungan. Tetapi pegangannya terlepas dan Guo Jing lalu ditangkap oleh Chen Xuanfeng. Guo Jing diapit di tangan kiri Chen Xuanfeng. Han Xuayoin yang melihat ini lalu berusaha menyelematkan Guo Jing, tetapi kemampuannya kalah jauh dari Chen Xuanfeng. Zhang Ashseng yang selama ini memendam perasaan kepadan Han Xuayoin melihat idamannya diserang dengan jurus maut lalu memegang Kaki Chen Xuanfeng, hal ini memang menyelamatkan Han Xuayoin, tetapi untuk dirinya sendiri menjadi malapetaka karena dia terus di hajar oleh Chen Xuanfeng.
Mei Chaofeng yang saat ini bertarung sendirian melawan 5 dari 7 pendekar Jiangnan mulai kewalahan dan terluka. Melihat istrinya kewalahan, Chen Xuanfeng lalu membuang Guo jing dan berlari untuk membantu istrinya. Pertarungan pun menjadi merpihak kepada pembunuh kembar kembali.
Pertarungan terus terjadi, Guo Jing yang masih ada disanapun di ambil kembali oleh Chen Xuanfeng. Karena merasa panik, akhirnya Guo Jing mengeluarkan Pisau pemberian pendeta Qiu dan menusukannya ke Chen Xuanfeng. Chen Xuanfeng yang tidak sadar bahwa anak ini berbahaya akhirnya terluka. Dia lalu menyuruh Mei Chaofeng yang telah buta oleh jurus pendekar aneh dari Jiangnan untuk melarikan diri. Pertarunganpun akhirnya berakhir.
Hampir semua anggota 7 Pendekar Aneh Jiangnan mengalami luka-luka, tetapi yang terparah adalah Zhang Ahsheng. Zhang, karena ingin menyelamatkan Han Xuayoin akhirnya di hajar dua kali dengan jurus maut Chen Xuanfeng, dan kepalanya juga kena jurus yang sangat mematikan.
Melihat keadaan Xhang Ahsheng, 6 sodaranya lalu duduk mengelilinginnya. Zhang yang tau bahwa waktunya telah tiba akhirnya memberanikan diri untuk melamar Han Xuayoin, dan tentu saja Nona Han menyetujuinya dan berjanji tidak akan menikahi siapapun lagi seumur hidupnya.
Setelah itu, ke-6 saudara mereka memanggil Guo Jing untuk menemui Zhang Ahsheng, Guru ke-5 nya. Dia mengatakan pada Guo Jing bahwa tidak masalah jika dia dianggap Bodoh dan tidak berbakat, yang penting adalah bahwa Guo Jing harus memiliki usaha dan kemauan yang keras untuk maju. Lalu setelah itu dia berpesan pada keenam saudaranya agar mengajari Guo Jing agar jangan sampai mereka nantinya kalah oleh Pendeta Qiu dalam pertarungan dimasa yang akan datang. Setelah mengatakan hal tersebut, Zhang Ahsheng lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
Dan adegan ini mengakhiri Chapter 4, sampai ketemu di chapter berikutnya, Chapter 5.
Hu hu hu


