RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Kata Pengantar
  •  

    Ringkasan Novel Legend Of Condor Heroes : Chapter 7

    Ok tanpa banyak cincong, ini dia Ringkasan cerita Legend Of Condor Heroes chapter 7 nya:

    Chapter 7:
    Pertandingan Untuk Menentukan Suami

    6 Pendekar Aneh Jiangnan dan Guo Jing lalu berjalan menuju arah tenggara. Hari ini akhirnya mereka sampai kedaerah China. Guo Jing yang baru pertamakali ke China, sangat antusias melihat budaya orang selatan. Dia memacu kudanya dengan kencang sampai ke sungai hitam, lalu berhenti disebuah kedai sambil menunggu gurunya yang ia tinggalkan dibelakang.

    Sambil menunggu dia lalu mengurus kudanya. Tiba-tiba ia melihat 4 onta berjalan, yang masing-masing onta di tunggangi oleh 4 wanit cantik berbaju putih. Guo Jing tidak henti-hentinya memperhatikan mereka karena ini pertama kalinya ia melihat kecantikan yang berbeda, yang sulit ditemui ketika ia masih berada di Padang Rumput. Salah seorang penunggang merasa risi lalu memarahi Guo Jing. Lalu mereka berkata bahwa Guo Jing telah melukai kudanya sendiri dan mereka lalu menertawainya.

    Guo Jing yang tanpa sadar terus mengelus-elus kudanya kaget ketika ia lihat tangannya penuh dengan darah. Ternyata kudanya terluka. Guo Jing lalu merasa malu lalu ia melihat salah satu gurunya, Han Baoju si Dewa kuda datang. Ia lalu mengecek kuda Guo Jing dan mengatakan pada Guo Jing bahwa kuda tersebut tidak terluka dan cairan merah itu bukanlah darah melainkan keringat.

    Han Baoju lalu mengatakan bahwa gurunya pernah menerangkannya bahwa di wilayah barat Kerajaan Ferghana (sekarang menjadi wilayah Uzbekistan, Kirghiztan dan Taczhikistan), terdapat kuda surga yang keringatnya berwarna merah seperti darah. Loncatannya sangat tinggi dan larinya sangat cepat. Ternyata kuda tersebut adalah kuda ini, kuda milik Guo Jing.

    Tanpa mereka sadari bahwa keempat penunggang kuda tadi mencuri dengar pembicaraan Guo Jing dengan gurunya. Mereka kemudian berbisik bisik ingin mencuri kuda tersebut. Ke Zhen’E yang buta, memiliki pendengaran sangat tajam sehingga mengetahui maksud mereka.

    Dari pembicaraan mereka, Ke Zhen’E tau bahwa mereka pernah bertemu dengan Peng Lianhu, orang yang sangat kejam dan telah membunuh banyak orang sehingga mendapat julukan Pemotong 1000 tangan. Mereka takut Kuda Guo Jing akan di rebut Peng terlebih dahulu sehingga mereka nantinya tidak punya kesempatan mencuri kuda tersebut. Kuda tersebut ingin mereka serahkan ke tuan muda mereka. Mereka bermaksud dengan memberikan kuda Guo Jing, Tuan Muda mereka akan makin sayang kepada mereka. Lalu mereka membicarakan Han Xiayoing yang sedang duduk bersama-sama Guo Jing. Mereka berbisik-bisik dan mengatakan jika Han lebih muda 10 tahun, pasti tuan muda mereka akan jatuh cinta padanya. Setelah itu mereka menghabiskan makanannya dan pergi.

    Setelah mereka pergi, Ke Zhen’E memberitahukan kepada Guo Jing tentang apa yang ia dengar. Ia lalu juga memberitahukan bahwa banyak orang sakti datang ke kota Yan Jing, salah satunya adalah Peng Lianhu. Orang-orang tersebut pasti berniat untuk menyerang Song kata Ke Zhen’E.

    Setelah itu Keenam Guru Guo Jing meminta Guo Jing untuk berpisah dari mereka, dan mereka meminta Guo Jing untuk datang pada hari ke-24 bulan purnama ketiga ke Anjungan Pemabuk Abadi walau apapun yang terjadi. Mereka ingin berpisah dengan Guo Jing karena mereka ingin Guo Jing merasakan kehidupan di Dunia Persilatan secara mandiri, ini adalah satu-satunya yang tidak bisa mereka ajarkan ke Guo Jing dan harus Guo Jing alami sendiri. Tetapi pada tanggal yang ditentukan, Guo Jing harus kembali untuk melakukan sparing dengan Yang Kang sekaligus mememuhi janji Gurunya dengan Pendeta Qiu.

    Guo Jing kemudian bersujud kepada keenam gurunya dan kemudian memacu kudanya dan pergi. Tanpa ia sadari air mata keluar dari matanya. Ia selama ini selalu bersama-sama, tetapi sekarang ia harus meninggalkan keenam gurunya. Ia juga sedih mengingat ibunya yang ia tinggalkan sendiri, tetapi ia tau, Tolui dan Genghis Khan akan merawat ibunya dengan baik.

    Guo Jing terus memacu kudanya. Di tengah perjalanan tiba-tiba Guo Jing dihadang oleh empat orang wanita. Keempat Wanita tersebut ternyata adalah 4 penunggan Onta tadi. Mereka berkata bahwa mereka ingin melihat kudanya Guo Jing. Karena sudah diinfokan oleh Ke Zhen’E, Guo Jing tidak memperdulikan mereka dan akhirnya memacu kudanya menerobos mereka. Karena cepatnya lari kuda Guo Jing, mereka tidak sanggup mengejarnya, bahkan serangan dadakan yang mereka rencanakan di tengah jalan juga sia-sia, karena lari kuda Guo Jing begitu cepat, sehingga saat serangan siap di luncurkan, kuda Guo Jing sudah jauh melewati mereka.

    Akhirnya Guo Jing sampai ke kota Kalgan, kota perbatasan antara wilayah Utara dan Selatan. Guo Jing seperti kebingunan melihat suatu kota yang begitu meriah, karena sangat berbeda dengan Padang Rumput yang selama ini ia tempati. Ia lalu memutuskan untuk makan di suatu Restoran. Dia memesan Daging dan kue dan memakan makanan tersebut dengan cara makan orang Mongol. Saat asik makan, ia mendengar kegaduhan di luar. Karena takut kudanya akan di curi lagi, ia melihat keluar.

    Ternyata kudanya tidak apa-apa. Tetapi dibagian lain, ia melihat seseorang sedang memarahi seorang anak laki-laki berumur sekitar 16 tahun. Anak muda itu terlihat seperti seorang pengemis sementara yang memarahi anak tersebut adalah sang pemilik restoran. Ia marah karena tangan pengemis kecil itu dengan sengaja menyetuh roti dagangan pemilik restoran sehingga roti tersebut menjadi kotor dan tidak bisa dijual.

    Guo Jing yang merasa kasihan kepada anak muda itu akhirnya meminta agar tagihan roti itu biar dibayarkan oleh Guo Jing saja. Lalu Guo Jing mengundang anak muda tadi untuk makan bersamanya. Guo Jing lalu memanggil pelayan dan menawarkan anak muda tadi untuk memesan makanan.

    Anak muda tadi lalu mengejek pelayan tadi dan mengatakan bahwa pesanannya tidak akan ada di restoran jelek ini. Lalu Pelayan itu mengatakan bahwa semua pesanan anak tadi bisa dia berikan, tetapi dia ragu apakah Guo Jing mampu membayarnya. Guo Jing yang telah dihadiahkan uang banyak oleh Genghis Khan mengatakan bahwa apapun yang di pesan anak muda tadi, ia pasti mampu mebayarnya.

    Ternyata anak muda tadi memesan begitu banyak makanan, dan makanan yang dipesan benar-benar mahal dan mewah. Bahkan pelayan tersebut menjadi heran, bagaimana seorang pengemis bisa mengenal makanan-makanan mewah seperti ini.

    Guo Jing lalu mulai memakan pesanan anak muda tadi, dan sungguh terkejut karena belum pernah ia memakan banyak makanan enak seperti ini. Sambil makan, anak muda tadi lalu menceritakan tentang budaya, kebiasaan, orang terkenal dan anekdot-anekdot orang Selatan. Guo Jing terkagum kagum dengan kemampuan berbicara dan Pengetahuan anak muda ini dan ia sadar bahwa anak muda ini mungkin adalah seorang cendikiawan dengan kepintaran yang luar biasa.

    Setelah menceritakan tentang kehidupan orang selatan, gantilah anak tadi bertanya kepada Guo Jing tentang kehidupan di utara, kehidupan di padang rumput. Guo Jing merasa cocok sekali dengan anak muda ini, karena pembicaraan mereka terasa lepas. Hal ini karena selama ini Guo Jing jarang berbicara dengan anak seumurnya, Tolui walaupun saudara angkat dengan dia, tetapi ia lebih sering menghabiskan waktunya dengan ayahnya, sementara Hua Zheng walau sering bersamanya, tetapi mereka lebih sering bertengkar sehingga kadang pembicaraan mereka tidak lepas, karena dengan Hua Zheng, Guo Jing harus lebih sering mengalah.

    Pembicaraan Guo Jing berlangsung lama, Guo Jing yang biasanya pendiam kini tidak berhenti-hentinya berbicara. Saat mereka sadar, makanan telah dingin. Anak muda tadi kemudian meminta pelayan untuk membuang makan tersebut, dan mempersiapkan makanan baru karena jika sudah dingin maka rasanya menjadi tidak senikmat yang masih panas. Guo Jing walau merasa sayang, tetapi akhirnya membiarkan anak muda tadi, karena jarang sekali ia bisa bertemu orang yang bisa diajak bicara secara lepas.

    Setelah selesai makan, pelayan tadi menagih bayaran ke Guo Jing sambil mengatakan bahwa Guo Jing sangat bodoh karena telah dimanfaatkan oleh anak muda tadi. Setelah Guo Jing membayarnya, anak tadi lalu pamit dan meninggalkan Guo Jing. Melihat pakaian anak tadi kurang tebal dan cuaca sangat dingin, Guo Jing memberikan anak tadi mantel bulunya yang mahal. Guo Jing mengatakan bahwa dia seperti telah mengenal lama anak muda itu, dan meminta anak muda tadi menerima mantelnya sebagai tanda persahabatan. Anak tadi menerimanya, lalu Guo Jing juga memberikan setengah sisa uangnya untuk anak tadi. Anak tadi lalu menerima jaket dan uang tersebut tanpa mengucapkan terima kasih dan lalu pergi.

    Belum lama ia berjalan, ia lalu berhenti dan menanyakan nama Guo Jing. Mereka lalu berkenalan, anak muda tadi ternyata bernama Huang Rong. Ia lalu mengajak Guo Jing untuk makan kembali. Huang Rong menceritakan bahwa dia saat ini sedang melarikan diri dari ayahnya, karena ia telah melepaskan tawanan ayahnya. Ia juga menceritakan bahwa ibunya telah meninggal semenjak Ia lahir.

    Guo Jing meminta Huang Rong untuk pulang, tetapi Huang Rong berkata bahwa Ayahnya tidak menginginkan dirinya lagi. Karena setelah Huang Rong lari dari rumah, ayahnya tidak pernah mencarinya. Huang Rong lalu berkata sambil menangis, bahwa jika ayahnya masih sayang padanya, kenapa dia tidak mencari dirinya. Guo Jing lalu mencoba meyakinkan Huang Rong bahwa ayahnya mungkin sedang mencarinya saat ini, tetapi belum menemukan dirinya. Akhirnya Huang Rong-pun percaya dengan Guo Jing dan lalu tersenyum kembali.

    Lalu Guo Jing menceritakan tentang sekelompok wanita yang ingin mencuri kudanya kepada Huang Rong. Lalu Huang Rong tertarik dan bertanya segala kelebihan Kuda milik Guo Jing tersebut. Lalu setelah mendengar itu, Huang Rong meminta Guo Jing untuk menyerahkan kuda milik Guo Jing kepada dirinya. Guo Jing lalu langsung setuju dan bersedia memberikan kudanya ke Huang Rong.

    Huang Rong tiba-tiba mengeluarkan air mata. Ia terharu dengan kebaikan Guo Jing. Sebenarnya permintaan dia hanyalah sebuah candaan. Ia hanya ingin melihat bagaimana teman barunya ini menolak permintaannya dengan cara halus. Ternyata ia benar-benar di berikan seekor kuda langka yang sangat berharga ini.

    Guo Jing lalu mendatangi kudanya, dan memberitahukan bahwa kepada kuda tersebut bahwa sekarang tuannya adalah Huang Rong. Lalu Guo Jing meminta Huang Rong untuk menaiki kuda tersebut. Kuda tersebut, yang biasanya tidak membiarkan dirinya di tunggangi orang lain selain Guo Jing, membiarkan Huang Rong menungganginya. Kemudian Huang Rong dan kuda tersebutpun pergi. Guo Jing lalu kembali kepenginapannya.

    Saat masuk ke kamarnya, Guo Jing tiba-tiba dikagetkan dengan kehadiran 5 orang di kamarnya. 4 dari mereka bisa Guo Jing kenali, mereka adalah 4 Pengawal Wanyan Hong Lie yang pernah bertarung dengan Guo Jing di Padang Rumput. Lalu salah satu dari mereka, Shen Qinggang memperkenalkan orang ke-5. Ternyata orang tersebut adalah paman dari ke-4 Pengawal Wanyan dan di kenal dengan nama Hou Tonghai atau Naga Kepala Tiga.

    Guo Jing sadar dirinya bukanlah tandingan mereke berlima, lalu dengan sopan menanyakan maksud kedatangan mereka. Ternyata Hou Tonghai bermaksud mencari keenam guru Guo Jing. Karena guru Guo Jing tidak ada, maka mereka memberikan waktu sampe setengah hari. Jika sampai setengah hari guru Guo Jing tidak muncul, maka mereka akan membunuh Guo Jing. Huo Tonghai juga mengatakan bahwa jika gurunya datang, maka dia meminta guru Guo Jing untuk datang ke Hutan di daerah barat untuk menantangnya.

    Guo Jing sadar bahwa gurunya tidak ada di kota Kalgan, dan dengan neigong-nya tentu Dia dapat dengan mudah melarikan diri dari mereka. Tetapi Jiwa Ksatria Guo Jing tidak membenarkan dirinya untuk lari dari pertarungan, oleh sebab itu ia lebih memilih untuk beristirahat dan bertarung sampai mati besok dari pada harus melarikan diri.

    Qian Qingjian kali ini mendapat giliran untuk mengawasi Guo Jing. Qian Qingjian kemudian membawa Guo Jing menuju hutan, lalu meninggalkan Guo Jing di hutan. Lalu Guo Jing masuk ke hutan dan betapa terkejutnya ia saat melihat 4 Pengawal Wanyan Hong Lie atau yang lebih di kenal dengan nama Iblis-iblis Sungai Kuning terikat di pohon. Guo Jing tidak tau bagaimana hal tersebut terjadi kepada mereka tetapi karena sadar bahwa Hou Tonghai akan segera datang ia tidak mau berlama-lama di sana dan lalu langsung meneruskan perjalanannya ke Selatan. Menurut Guo Jing, ia sudah memenuhi janjinya dengan datang ke Hutan untuk bertarung, tetapi yang mengundangnya tidak datang, sehingga boleh di bilang ia tidak melanggar janji dan jiwa ksatrianya mengizinkan dia untuk meninggalkan hutan tersebut.

    Perjalan Guo Jing kali ini lancar tanpa gangguan. Akhirnya dia sampai juga ke kota Yan Jing, ibu kota negara Jin. Kota ini adalah kota maju, bahkan ibu kota Song jaman dahulu Bian Liang ataupun ibu Kota negri Song saat ini, Lin An tidak bisa di bandingkan dengan kota ini. Guo Jing sangat bingung melihat suatu kota yang tersusun rapi, di mana di kota tersebut banyak objek-objek yang tidak dia kenal. Bahkan dari sepulu hal yang dia lihat di sana, mungkin yang dia tau artinya hanya satu.

    Saat berjalan-jalan mengelilingi kota, Guo Jing melihat suatu keramaian. Ia lalu melihat keramaian tersebut dan tampaklah suatu panggung yang dikelilingi banyak orang. Di panggung tersebut terdapat sebuah hiasan yang bertuliskan “Tantangan Untuk Calon Suami”. Di masing-masing sudut panggung terdapat satu orang, satu wanita cantik berbaju merah, satunya lagi adalah orang gendut. Mereka berdua lalu bertarung dan dalam waktu singkat, si Gendut tadi dapat dikalahkan oleh wanita tersebut.

    Setelah kemenangannya, muncul seorang Pria setengah baya dan lalu berkata kepada semua penontonnya, “Aku Mu Yi dari Shandong. Maksud kedatanganku ke kota ini bukanlah kejayaan ataupun kekayaan. Hanya saja sekarang anakku sudah berumur 15 tahun (di cina jadul, itu udah saatnya cewe untuk menikah) tapi dia belum punya pasangan. Jadi Sayembara ini ku adakan dengan maksud untuk mencari suami putriku. Bagi orang yang bisa mengalahkan putriku dalam pertandingan bela diri, maka aku akan menikahkan putriku dengan orang tersebut.”

    Setelah itu muncul beberapa penantang untuk mengalahkan Anaknya Mu Yi, tapi mereka semua dapat dikalahkan dengan mudah oleh Anaknya Mu Yi.

    Lalu dari kejauhan terlihat sekumpulan orang datang. Mereka berjumlah sekitar belasan pelayan dan satu Tuan Muda. Tuan Muda itu merasa tertarik setelah melihat judul sayembara tersebut dan juga wajah cantik dan tubuh indar dari Anaknya Mu Yi.

    Tuan Muda tersebut lalu mendatangi Mu Yi dan minta dijelaskan peraturan sayambara tersebut. Tuan Muda tersebut berwajah tampan dan berumur sekitar 18 atau 19 tahun. Lalu Setelah mendengar aturannya, Tuan Muda itu berkata bahwa dia ingin ikut berpartisipasi dalam sayembara ini.

    Mu Yi takut jika Tuan Muda tersebut tersinggung jika nantinya dikalahkan oleh Putrinya, mencoba menolak tantangan Tuan Muda tersebut secara halus. Lalu dia juga mengingatkan bahwa pemenang dari Sayembara ini harus menikah dengan putrinya, Putri dari seorang pengembara miskin dan tidak berpendidikan.

    Lalu Tuan Muda itu berapa lama Mu Yi telah melakukan Sayembara ini. Mu Yi menjawab bahwa dia sudah melakukan sayembara ini selama 6 bulan, dia berjalan dari satu kota ke kota lainnya, tetapi tampaknya, para jago kungfu tidak ada yang tertarik dengan putrinya, yang menantang hanya mereka dengan kungfu yang lemah.

    Tuan Muda tersebut akhirnya memaksa untuk berpartisipasi dan akhirnya Mu Yi tidak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan Tuan Muda tersebut, karena dia takut menyinggung orang tersebut. Mu Yi lalu mengingatkan putrinya untuk mengalahkan Tuan Muda tersebut dan dia juga mengingatkan putrinya untuk tidak mempermalukan Tuan Muda tersebut. Setelah pertandingan ini mereka akan langsung membubarkan sayembara ini dan berkelana ke kota lainnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    Anaknya Mu Yi dan Tuan Muda tersebutpun bertarung. Ternyata Kung Fu Tuan Muda tersebut sangat hebat. Pertandingan berlangsung sangat seru sehingga membuat Guo Jing merasa dirinya sangat bodoh di hadapan mereka, karena walaupun umurnya dan umur mereka tidak jauh berbeda, tetapi kepandaian dirinya jauh di bawah putrinya Mu Yi, dan sangat jauh di bawah Tuan Muda tersebut. Tetapi Guo Jing merasa, antara Tuan Muda tersebut dengan Putrinya Mu Yi memang sangat cocok sehingga dia berharap Tuan Muda tersebut menang dan akan menikahi putrinya Mu Yi.

    Pertandinganpun semakin seru. Tuan Muda tersebut lalu menyerang Putrinya Mu Yi, tangannya yang mau memukul lalu tiba-tiba seperti ingin mencakar. Terkejut putrinya Mu Yi lalu menjatuhkan diri, tetapi Tuan Muda tersebut lalu menolongnya sehingga tubuh Mu Yi kini bertumpu pada tangan kanan Tuan Muda tersebut. Putrinya Mu Yi mukanya berubah menjadi merah dan lalu minta dilepaskan.

    Tuan Muda tersebut lalu berkata, jika Putrinya Mu Yi mau memanggil dia sayang, maka dia akan melepaskannya. Marah lalu putrinya Mu Yi mencoba menedang Tuan Muda tersebut. Tuan Muda tersebut akhirnya melepaskan putrinya Mu Yi, tetapi tangannya berhasil menanggkis tendangan putrinya Mu Yi sekaligus mengambil sepatu milik putrinya Mu Yi.

    Setelah putrinya dilepaskan, Mu Yi lalu menanyakan nama Tuan Muda tersebut, tetapi Tuan Muda tadi mengatakan bahwa dia bukan siapa-siapa sehingga namanya tidak akan dikenal. Lalu Mu Yi mengajak Tuan Muda tersebut untuk kepenginapannya dan mempersiapkan pernikahan Tuan Muda tersebut dengan Putrinya. Tetapi Tuan Muda tersebut menolak pernikahan tersebut dengan alasan bahwa dia ikut sayembara ini hanya untuk berlatih bela diri dan bukan untuk hal lainnya.

    Mu Yi merasa marah dengan perkataan Tuan Muda tersebut. Lalu salah satu pelayan Tuan Muda tersebut berteriak, “Kau anggap apa Pangeran Muda kami? Apakah kau pikir Pangeran kami akan menikah dengan Putri seorang Pengembara penjual bela diri dari Jiang Hu seperti kalian? Dalam mimpimu Orang Tua..!!!”.

    Mu Yi marah dan menghajar orang tersebut sampai langsung pingsan. Tuan Muda tersebut tidak peduli dengan hal itu lalu menaiki kudanya dan berencana meninggalkan lokasi Sayembara. Tetapi Mu Yi tidak bisa terima hal ini dan mengajak bertarung Tuan Muda tadi. Terjadilah pertarungan antara Mu Yi dan Tuan Muda tadi. Putrinya Mu Yi mencoba untuk membantu ayahnya, tetapi ayahnya menolaknya dan berkata bahwa hari ini jika bukan Tuan Muda tersebut yang mati, maka dialah yang mati, dia meminta Putrinya untuk tidak ikut campur.

    Anaknya Mu Yi, merasa sedih lalu mengambil pisau dan mencoba menusukan pisau tersebut ke perutnya sendiri. Mu Yi melihat hal ini langsung mencegah hal tersebut dengan meletakan telapak tangan di antara perut dan pisau anaknya. Hal ini membuat tangan Mu Yi terluka, tetapi hal ini juga mencegah anaknya Mu Yi meneruskan niatnya karena dia tidak ingin menyakiti Ayahnya.

    Guo Jing melihat hal ini lalu maju dan mengatakan bahwa Tuan Muda tersebut berlaku tidak benar, Guo Jing meminta Tuan Muda tersebut untuk menikahi anaknya Mu Yi. Guo Jing lalu berkata bahwa jika Tuan Muda tersebut tidak ingin menikahi anaknya Mu Yi, seharusnya dia tidak perlu mengikuti Sayembara ini. Tuan Muda tersebut tidak memperdulikan Guo Jing.

    Mu Yi melihat Guo Jing sebagai orang yang berjiwa ksatria, tetapi sedikit naif dan kurang memiliki pengetahuan tentang sifat dunia persilatan lalu mengatakan untuk tidak usah memperdulikan Tuan Muda tadi. Mu Yi berjanji bahwa selama dia masih hidup, dia pasti akan membalaskan hinaan yang diberikan kepada dirinya dan putrinya ini.

    Mu Yi lalu berteriak menanyakan nama Tuan Muda tersebut, tetapi Tuan Muda tersebut menolak memberikan namanya. Guo Jing yang kesal lalu berteriak agar Tuan Muda tersebut mengembalikan sepatu anaknya Mu Yi. Tuan Muda tersebut merasa Guo Jing terlalu ikut campur merasa kesal dan menyerang Guo Jing. Guo Jing lalu menghindar.

    Tuan Muda tersebut kemudian menantang Guo Jing untuk bertarung, tetapi Guo Jing menolaknya. Penonton yang ada di sana merasa kecewa dengan Guo Jing. Menurut mereka Guo Jing hanya pandai bicara saja dan tidak berani beraksi.

    Karena Guo Jing tidak mau bertarung, Tuan Muda tersebutpun kembali meninggalkan mereka tanpa mengembalikan sepatu putrinya Mu Yi. Guo Jing lalu kesal dan menarik mantel yang dikenakan Tuan Muda tadi. Tetapi tiba-tiba Tuan Muda itu berbalik dan memukul Guo Jing. Jika saja Guo Jing tidak memiliki neigong yang luar biasa, pukulan tadi pasti akan melukai Guo Jing dengan sangat parah, tetapi karena neigong yang ia miliki, Guo Jing tidak terlalu terluka walaupun rasa sakit yang ia rasakan sangat luar biasa.

    Guo Jing merasa marah atas serangan dadakan itu, akhirnya memilih untuk bertarung dengan Tuan Muda tadi. Setelah beberapa jurus Guo Jing akhirnya terdesak dan jatuh oleh serangan dari Tuan Muda tadi. Tetapi Guo Jing tidak menyerah dan menyerang lagi. Dilihat dari kekuatan sebenarnya Guo Jing lebih kuat, tetapi sayang teknik Guo Jing masih kalah dari Tuan Muda ini.

    Guo Jing terus bertarung, dan akhirnya dia punya kesempatan untuk mengeluarkan salah satu Jurus Mautnya ke Tuan Muda tersebut. Tetapi karena Guo Jing merasa tidak ada dendam dan kebencian antara dirinya dengan Tuan Muda tersebut, ia memutuskan untuk membatalkan jurusnya sehingga akhirnya dia selalu terdesak.

    Setelah 3 kali terjatuh Guo Jing tetap tak menyerah dan terus menyerang Tuan Muda itu. Tuan Muda itu merasa kesal dan berteriak kepada Guo Jing, “Apakah kau tidak tau bahwa kau telah kalah? Jika kau terus menyerang aku akan dengan terpaksa membunuhmu..!!!”. Tetapi perkataan tersebut tidak dipedulikan oleh Guo Jing, ia terus menyerang.

    Tuan Muda tadi lalu bertanya, ada hubungan apa antara Guo Jing dengan Mu Yi dan putrinya. Guo Jing menjawab bahwa ia tidak kenal siapa mereka dan ini pertama kalinya Guo Jing melihat mereka. Mendengar hal tersebut, Tuan Muda tadi tertawa dan mengatakan bahwa Guo Jing adalah orang bodoh.

    Pertarungan bertarung terus dengan sangat seru. Penonton yang melihat juga semakin banyak. Mu Yi yang sadar benar akan hal ini yakin jika hal ini terus berlangsung, pasti akan mengundang kedatangan pihak yang berwenang. Mu Yi sebetulnya sadar bahwa tidak baik jika dia terus berada disana, tetapi dia juga tidak ingin meninggalkan Guo Jing yang sudah berbaik hati menolongnya.

    Diantara para penonton Mu Yi kemudian melihat tiga orang yang tampaknya merupakan ahli kungfu dari dunia persilatan. Mereka adalah seorang Pendeta Tibet (Lingzhi), Orang tua berambut perak (Liang Ziwong) dan orang berbadan kecil dan berkumis (Peng Lianhu). Mu Yi kemudian mendengar salah seorang pelayan Tuan Muda tadi berbicara kepada mereka untuk menolong tuannya. Dari pembicaraan mereka, Mu Yi sadar bahwa mereka adalah alhi kungfu yang melayani keluarga kerajaan. Tetapi ketiga orang tersebut menolak menolong Tuan Muda tersebut, karena mereka yakin kemampuan Tuan Muda mereka diatas Guo Jing sehingga mereka tidak perlu turut campur.

    Mereka bertiga kemudian membahas tentang Kung Fu Guo Jing. Tiba-tiba Hou Tonghai muncul dibelakang mereka, Hou Tonghai yang memang punya masalah dengan Guo Jing akhirnya menceritakan siapa Guo Jing dan siapa gurunya Guo Jing. Ternyata Hou Tonghai adalah teman dari mereka bertiga dan ia juga termasuk pelayan keluarga kerajaan.

    Hou Tonghai yang emosi, melihat Guo Jing lalu menyerang ke panggung. Belum sampai ia ke panggung, tiba-tiba Huang Rong datang dan menyerangnya. Hou Tonghai tidak jadi mengejar Guo Jing dan kini malah menyerang Huang Rong. Guo Jing yang khawatir dengan keselamatan kawannya itu akhirnya meminta lawannya untuk menghentikan sementara pertarungan mereka. Tuan Muda tersebut yang memang malas untuk bertarung dengan Guo Jing akhirnya mengambil kesempatan tersebut untuk menghentikan pertarungan.

    Sementara itu Hou Tonghai terus menyerang Huang Rong. Huang Rong memiliki gerakan yang sangat cepat sehingga semua serangan Trisula Hou Tonghai dapat dihindarinya. Huang Rong terus menghindar seakan-akan dirinya hanya mempermainkan Hou Tonghai, dan semua yang melihat hal tersebut menertawakan Hou Tonghai karena serangannya tidak ada yang kena, dan Huang Rong terus mempermainkannya.

    Tiba-tiba muncul 3 orang yang ikut membantu Hou Tonghai, mereka adalah 3 dari 4 keponakan Hou. Yang tidak hadir adalah Qian Qingjian. Mereka semua tampak lebih dendam kepada Huang Rong dari pada kepada Guo Jing. Melihat hal ini Guo Jing akhirnya sadar, bahwa orang yang menyelamatkan dirinya pada saat di hutan dan dalam tawanan Hou Tonghai dan 4 keponakannya, pasti Huang Rong-lah yang telah menyelamatkannya.

    Hou dengan 3 keponakannya terus menyerang, tetapi usaha mereka tampaknya sia-sia. Peng Lianhu yang merupakan teman dari Hou Tonghai merasa malu melihat temannya dipermainkan seperti itu. Huang Rong akhirnya lari menjauh dari panggung dan akhirnya tidak terlihat lagi, sementara Hou Tonghai dan keponakannya juga terus mengejar Huang Rong.

    Tiba-tiba terdengar suara puluhan tentara datang ketempat mereka. Mereka berjalan mengelilingi tandu yang diangkat oleh 6 orang berotot besar. “Putri datang” kata salah seorang pelayan. Tuan Muda tadi mendengar hal tersebut merasa panik, ia lalu berkata “Siapa Idiot yang berani kurang memberitahukan ibuku bahwa aku ada disini!?”. Tuan Muda tersebut ternyata adalah seorang Pangeran.

    Pelayan-pelayan Pangeran tersebut tidak berani bicara, dan lalu mendatangai tandu untuk menemui sang Putri. Mu Yi yang melihat Putri Jin tadi merasa mengenali Putri tersebut, tetapi ia masih tidak yakin. Dia merasa dia terlalu rindu dengan istrinya sehingga mulai berpikir yang tidak-tidak.

    Putri tersebut lalu memarahi anaknya dan lalu mengajak anaknya pulang. Salah seorang Pelayan yang melihat mantel tuannya rusak, lalu memberitahukan tentara yang di bawa sang Putri bahwa Guo Jing telah merusak mantel tersebut. Salah seorang tentara akhirnya maju menyerang Guo Jing, namun ia bukan tandingan Guo Jing dan dapat dikalahkan dengan mudah oleh Guo Jing.

    Sang Pangeran melihat tentaranya di pukul, marah dan menyerang Guo Jing. Merekapun kembali bertarung. Sang Putri meminta anaknya untuk berhenti bertarung tetapi anaknya menolak. Ia berkata bahwa Guo Jing harus dihukum karena tidak menghormati keluarga kerajaan.

    Guo Jing walaupun terdesak dan berkali-kali terkena pukulan dan tendangan Pangeran tadi tetap tidak mau mengakui kekalahannya, sehingga mereka tidak berhenti-berhenti bertarung.

    Sementara itu Huang Rong muncul lagi di sekitar panggung dengan Hou Tonghai terus mengejarnya, tetapi tampaknya keponakan Hou tidak mampu mengimbangi kecepatan Huang Rong dan mereka tidak tampak lagi. Huang Rong terus mempermaikan Hou Tonghai, sementara Hou Tonghai tampak makin lelah mengejar Huang Rong.

    Peng Lianhu kemudian berfikir bahwa ada kemungkinan bahwa Huang Rong adalah anggota partai pengemis (kaifang). Saat ini kaifang adalah partai terbesar di Jiang Hu.

    Sementara Guo Jing dan Pangeran terus bertarung. Kali ini Guo Jing bertarung menggunakan jurus bertarung Mongolia ajaran Je Be. Akhirnya baik sang Pangeran maupun Guo Jing terjatuh. Sang Pangeran lalu segera bangkit, mengambil tombak dari tangan salah satu tentaranya, dan ingin menusukannya ke dada Guo Jing. Guo Jing lalu bersiap untuk menggunakan jurus mengangkap tombak dengan tangan kosong.

    Sang Putri yang melihat hal ini meminta anaknya untuk menghentikan hal tersebut, karena dia tidak ingin anaknya menjadi seorang pembunuh. Tetapi sang Pangeran tidak mempedulikannya dan terus menggunakan tombaknya.

    Guo Jing berhasil menangkap tombak tersebut dan membuang Pangeran mundur. Lalu Guo Jing mengambil tongkat bendera tempat tulisan Sayembara dan menggunakannya sebagai senjata. Guo Jing yang telah diajarkan jurus tombak oleh Ke Zhen’E mulai unggul dalam pertarungan ini sementara sang Pangeran mulai terdesar dan terus bertahan.

    Sang Putri melihat anaknya terdesak akhirnya berteriak meminta mereka untuk berhenti. Peng Lianhu mendengar hal ini lalu maju kepanggung dan menyerang tongkat benderanya sehingga akhirnya dia terpaksa melepaskan benda tersebut. Peng kemudian langsung menyerang Guo Jing. Guo Jing yang kaget akan serangan dadakan tersebut akhirnya terpental dan jatuh.

    Peng lalu segera melakukan serangan Finalnya ke kepala Guo Jing. Belum sempat kepala Guo Jing terkena pukulan maut tersebut, terdengar suara teriakan “Tahaaaan…!!!!”. Tiba-tiba tangan Peng Lianhu di tahan oleh seorang Pendeta Tao. Ia berwajah lumayan tua.

    Peng lalu bertanya apakah Pendeta Tao itu adalah Wang si Manusia Abadi Berkaki Besi. Yang ditanya menjawab bahwa benar dia adalah Wang Chuyi. Peng Lianhu, Liang Ziwong dan Lingzhi sadar betul bahwa Wang Chuyi adalah salah seorang anggota Quanzhen, anggoys Quanzhen paling terkenal setelah Pendeta Qiu Chuji.

    Pendeta Wang salut akan sikap ksatria dan keberanian Guo Jing sehingga ia meminta Peng Lianhu untuk memberi ampunan kepada Guo Jing. Peng yang tidak ingin menyinggung Quanzhen akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.

    Kemudian Pendeta Wang bertanya kepada Pangeran, tentang nama dan gurunya. Sang Pangeran menjawab bahwa namanya adalah Wanyan Kang tetapi ia tidak berani menyebutkan nama gurunya. Tetapi Pendeta Wang yang sadar akan jurus yang di gunakan Wanyan Kang, tau bahwa gurunya adalah Pendeta Qiu.

    Wanyan Kang yang sadar bahwa antara gurunya dengan Pendeta Wang saling kenal lalu berkata jika gurunya tau kejadian hari ini, maka dia pasti akan dihukum. Ia lalu mencoba untuk berteman dengan Pendeta Wang dan Guo Jing dengan mengajak mereka kekediamannya untuk lebih mengakrabkan diri.

    Guo Jing lalu bertanya tentang pernikahan, tetapi Wanyan Kang berkata bahwa hal tersebut memerlukan banyak pertimabangan. Mu Yi lalu berkata kepada Guo Jing untuk melupakan pernikahan tersebut.

    Wanyan Kang kemudian pamit kepada Pendeta Wang dan meminta Pendeta Wang untuk mampir kekediaman Pangeran Zhao jika ada waktu. Wanyan Kang kemudian pulang kekediamannya bersama ibunya.

    Pendeta Wang kemudian memanggil Guo Jing dan mengajaknya untuk pergi bersamanya. Guo Jing menolaknya karena dia harus menunggu Huang Rong. Tiba-tiba Huang Rong muncul kembali dan berkata tidak usah menghawatirkan dirinya, Ia akan menemui Guo Jing jika sudah selesai bersenang-senangnya dan kemudian ia berlari lagi dengan Hou dan keponakannya masih terus mengejarnya.

    Guo Jing kemudian bersujud kepada pendeta Wang sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawanya. Pendeta Wang mengangkatnya bangun dan kemudian mereka berdua berjalan kearah pinggiran kota.

    Selesai chapter 7, duh makin lama makin malas neh ngerjainnyyaaaa

    T_T

    Leave a Reply