Random Post: Kata Pengantar
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Kata Pengantar
  •  

    Ringkasan Novel Legend Of Condor Heroes : Chapter 5

    Untuk Chapter 1 - 4, akses disini

    Chapter 1 - 4

    Ok ini dia Ringkasan chapter 5 nya.

    Silakhan menikmati:

    Chapter 5:
    Panah yang Bengkok, Memanah Rajawali

    Setelah menguburkan jasad Zhang, 7 Pendekar Jiangnan yang tinggal 6 itu bersama Guo Jing akhirnya memutuskan untuk kembali ke perkemahan. Di tengah jalan mereka mendengar suara aungan binatang. Han Baoju lalu langsung menaiki kudanya menuju tempat suara.

    Terkeju Han Baouju saat melihat jasad dari Chen Xuanfeng. Yang lebih mengejutkannya lagi adalah bahwa jasad Chen Xuanfeng telah diambil kulit bagian belakang badannya. Lalu saat kelima pendekar lainnya tiba, mereka juga tidak memahami siapa yang sampai tega berbuat seperti ini. Bahkan mereka yang punya dendam kesumat dengan Chen Xuanfeng saja tidak akan tega melakukan hal ini.

    Guo Jing yang juga melihat hal ini kemudian dikejutkan dengan munculnya sekumpulan anak kecil yang dipimpin Dukhsh. Dia mengatakan bahwa Guo Jing bersembunyi disini sementara Tolui bertarung dengannya. Terlihat pula disana macan tutul yang di bawa oleh Dukhsh sedang memakan jasad Chen Xuanfeng. Jika saja Guru Guo Jing tidak ada disana, Dukhsh pasti sudah memerintahkan macan tutul tersebut untuk menyerang Guo Jing.

    Guo Jing berkata, dimana Tolui. Karena tidak bisa menyerang Guo Jing, akhirnya Dukhsh berkata bahwa dia akan melepaskan macan tutulnya untuk menyerang Tolui, dan lalu dia memerintahkan pawang macan tutul ayahnya untuk membuat macan tutul tersebut menyerang Tolui. Pawang macan tutul tersebut sebenarnya menolak, karena tau bahwa Tolui adalah anak dari Temujin. Tetapi Dukshs kemudian menyambuk pawang tersebut, dan lalu ia mengambil ikatan macan tutulnya dan kemudian membawa macan tutul tersebut ke tempat Tolui.

    Pawang tersebut yang takut nantinya akan disalahkan jika terjadi sesuatu pada Tolui, langsung berlari untuk melapor kepada Temujin. Guo Jing walaupun takut pada macan tutul, tetapi ia tidak akan membiarkan Saudara Angkatnya diserang lalu memutuskan untuk mempringati Tolui, walau artinya dia bisa juga nantinya di serang oleh macan tutul.

    Guo Jing berlari duluan sementara Guru-gurunya sedang berdiskusi. Mereka akhirnya juga memutuskan membantu Guo jing, tetapi mereka juga harus berhati-hati jangan sampai menyinggung Dukhsh karena Dukhsh adalah Cucu dari penguasa Jurchen. Merekapun lalu berlari dan tidak berapa lama, mereka berhasil menyusul Guo Jing. Han Baoju pun lalu mengangkat Guo Jing dan meletakannya di pundaknya. Akhirnya mereka sampai juga ke tempat Tolui.

    Tolui saat ini sedang dikelilingi oleh sepuluh anak yang dipimpin oleh Tolui. Tolui yang sendirian menantang Dukhsh untuk bertarung satu lawan satu, dan Dukhsh yang merasa lebih jago dari Toluipun menyetujui hal tersebut.

    Pertarunganpun dimulai. Tolui yang termasuk anak cerdas, setelah hari sebelumnya ikut belajar kungfu dengan Guo Jing, telah menguasai apa yang diajarkan sebelumnya. Dengan kemampuan barunya ini, bukan hanay Dukhsh, tetapi 10 anak buah Dukhsh-pun kalah melawannya. Merasa kesal, Dukhsh keluar dari lingkaran 10 orang anak buahnya dan berlari mengambil macan tutul yang telah disembunyikannya.

    Guo Jing yang melihat Dukhsh membawa macan tutul lalu berteriak memperingati Tolui. Tolui-pun panik ingin melarikan diri, tetapi 10 orang anak buah Dukhsh masih mengelilinginya, sehingga ia tidak bisa melarikan diri.

    Tetapi tiba-tiba terdengar teriakan Muqali dan 4 Jendral Temujin untuk tidak melepaskan macan tutul tersebut. Hal ini merupakah perintah langsung dari Ong Khan setelah mendengar laporan dari Pawang Macan Tutul yang macan tutulnya telah di ambil alih oleh Dukhsh. Tetapi perintah tersebut diacuhkan oleh Dukhsh dan dia lalu memerintahkan macan tutulnya untuk menyerang Tolui.

    Wanyan Hongxi yang mendegar hal ini lalu mengajak yang lain untuk melihat kejadian tersebut. Sementara Wanyan Hong Lie sangat berharap macan tutul tersebut membunuh Tolui, sehingga hal ini akan menciptakan keretakan hubungan antara Ong Khan dengan Temujin.

    Saat Hongxi, Hong Lie, Temujin, Senggum, Jamuka, Ong Khan dan yang lainnya sampai ke lokasi, macan tutul tersebut telah lepas dan sedang mengejar Tolui dan Guo Cing.

    Tiba-tiba terdengar teriakan, “Cepat, Panah Segera…!”. Teriakan itu dikeluarkan oleh ibunya Tolui, istri Temujin. Dia datang segera bersama anak prempuannya yang masih 4 tahun, Hua Zheng.

    Karena terfokus pada macam tutul dan Tolui, ibunya Tolui tidak memperhatikan bahwa Hua Zheng mulai berjalan sendirian mendekati kakaknya dan macan tutul yang mengancamnya. Karena masih kecil, Hua Zheng tidak sadar akan bahaya yang didekatinya.

    Temujin-pun memanah macan tutul tersebut, tetapi kemunculan Hua Zheng membuat Temujin lalu menggeser arah panahnya karena akan mengenai Hua Zheng. Akhirnya panah tersebut tidak mengenai titik utama yang bisa mengakibatkan kematian. Akibatnya macan tutul tersebut hanya terluka dan menjadi semakin ganas. Jendral-jendral Temujin kemudian berlari menuju Hua Zheng untuk menyelamatkannya dari amukan macan tutul. Tetapi jarak mereka terlalu jauh, tetapi harapan belumlah sirna.

    Guo Jing yang posisinya lebih dekat tiba-tiba maju dan mengangkat Hua Zheng. Tetapi macan tutul tersebut tidak tinggal diam, dan lalu langsung segera bergerak menyerang untuk mencakar Guo Jing. Saat Guo Jing sudah hampir tercakar, tiba-tiba macan tutul tersebut terpental dan mati. Terlihat luka akibat senjata rahasia di dahi macan tutul tersebut.

    Senggum lalu menghampiri macan tutul tersebut dan berteriak, “Siapa yang membunuh macan tutul milikku…!!!???”.

    Tidak terdengar jawaban sama sekali.

    Sebenarnya yang melempar senjata rahasia tersebut bukan lain adalah Ke Zhen’E, guru ke-1 Guo Jing. Dia takut macan tutul tersebut melukai Guo Jing dan dia tidak mau disalahkan atas kematian macan tutul milik Senggum, anak Seorang Khan pemimpim suku Jurchen, jadi dia memilih membunuh macan tersebut secara diam-diam.

    Temujin kemudian berkata bahwa dia akan mengganti macan tutul Senggum dan dia juga mengatakan kepada Ong Khan untuk tidak perlu memarahi Dukhsh karena hal ini dia anggap adalah permainan anak-anak. Dan karena tidak inggin hubungan kedua suku menjadi rusak, Temujin lalu mengusulkan untuk menikahkan Dukhsh dengan Hua Zheng saat mereka dewasa nanti. Ong Khan menyetujuinya, dan dia juga lalu mengusulkan untuk menikahkan cucu prempuan tertuanya kepada anak Temujin, Jochi.

    Wanyang Hong Lie yang melihat 6 Pendekar Jiangnan merasa khawatir dengan kehadiran mereka, karena ia takut bertemu dengan Pendeta Qiu sahabat mereka yang sangat membenci orang Jin. Kemudian diam-diam dia bersembunyi dibalik para prajuritnya agar tidak terlihat oleh mereka.

    Setelah semua orang dari Pihak Ong Khan pergi. Temujin yang mengetahui siapa penolong anaknya lalu mengucapkan terima kasih kepada 6 pendekar Jiangnan dan Guo Jing. Saat dia bertanya, mengapa Guo Jing sangat berani yang bahkan keberaniannya mengalahkan keberanian orang dewasa. Guo Jing tidak mampu menemukan jawabannya dan hanya bisa berkata, “Macan tutul itu makanannya manusia”.

    Sebagai ucapan terima kasih, Temujin menawarkan untuk memberikan hadiah. Quan Jinfa lalu menjawab bahwa mereka hanya perlu tempat untuk mengajarkan Guo Jing kungfu, dan Temujinpun memberikan mereka tempat di sukunya untuk melatih Guo Jing Kungfu.

    Dalam perjalanan kembali ke suku Temujin, Han Baoju membahas kembali tentang mayat Chen Xuanfeng yang diambil kulit badannya. Diskusi itu sampai kepada kesimpulan bahwa mereka harus menemukan Mei Chaofeng dan membunuhnya segera agar tidak terjadi balas dendam.

    Han Baoju, Han Xiaoying dan Quan Jinfa mencari Mei kemana-mana tetapi tidak menemukannya sehingga mereka sampai kepada kesimpulan bahwa Mei mungkin saja telah mati, karena dia telah di serang oleh Senjata rahasia Ke Zhen’E dan terlebih lagi matanya telah buta. Mereka yakin dia tidak akan bisa bertahan hidup di padang rumput.

    Semenjak itu 6 Pendekar Jiangnan tinggal di padang rumput dan mengajarkan Guo Jing dan Tolui kungfu. Tetapi Temujin yang lebih sering berperang hanya ingin Guo Jing dan Tolui belajar kungfu sekedarnya saja dan lebih fokus untuk belajar berkuda, memanah dan ilmu perang dan strategi. Karena 6 Pendekar Jiangnan bukan ahli perang, untuk ilmu-ilmu selain kungfu, Guo Jing dan Tolui mendapat pelajaran dari Dewa Panah Jebe dan Baroqul.

    Pada malam harinya 6 Pendekar Jiangnan hanya mengajarkan Guo Jing sendiri. Guo Jing walau lambat, tetapi ia tidak pernah menyerah karena dia ingin membalaskan dendam kematian ayahnya. Semakin lama 6 Pendekar Jiangnan semakin kehilangan dalam mengajar Guo Jing, karena dari 10 jurus yang diajarkan, tidak ada satupun yang mampu dikuasai oleh Guo Jing.

    Walaupun Guo Jing bodoh, mereka belum mau menyerah mengajar Guo Jing. Alasan pertama mereka adalah perkataan Quan Jinfa yaitu walau Guo Jing bodoh, tetapi mereka berhasil menemukannya sementara Pendeta Qiu belum tentu berhasil menemukan istri Yang Xientin, Bao Xiruo, dan jika memang ia menemukannya, belum tentu anaknya selamat. Walaupun selamat, belum tentu anak tersebut Pria. Dan jika anak tersebut Pria, belum tentu pada saat yang ditentukan, anak tersebut masih hidup. Dan Jika memang dia masih hidup, bisa saja anak tersebut lebih bodoh dari Guo Jing. Hal lain yang membuat mereka tidak menyerah adalah karena Guo Jing memiliki karakter seorang ksatria, hatinya baik, jujur dan penurut.

    Dalam 10 tahun kedepan, Temujin telah berperang berkali-kali dan membuat banyak suku-suku di padang rumput tundak dan bergabung dengan sukunya. Kemakmuran, Tentara dan wilayah kekuasaan Temujin semakin lama semakin luas dan hampir setara dengan kemakmuran, tentara dan wilayah kekuasaan Ong Khan.

    Saat ini Guo Jing sudah berusia 16 tahun, 2 tahun lagi ia harus bertarung dengan Yang Kang, murid Pendeta Qiu. Nan Xiren saat ini sedang melatihnya. Kemampuan Guo Jing sampai saat ini tidak banyak meningkat dari dia 10 tahun lalu. Nan Xiren sedang memarahinya, lalu tiba-tiba terdengar suara tawa.

    Seorang gadis cantik muncul dan berkata, “Guo Jing, kau dimarahi gurumu lagi?”.

    Wajah Guo Jing menjadi merah dan berkata, “Aku sedang berlatih, jangan ganggu aku.”.

    Gadis itu berkata, “Aku suka melihat kau dimarahi!”.

    Gadis tersebut adalah Hua Zheng, karena selalu dimanja anak ini menjadi sombong dan selalu bertindak seenaknya. Hal ini bertentangan dengan Guo Jing yang selalu disiplin sehingga mereka sering bertengkar, tentu saja setelah itu Hua Zheng akan meminta maaf dan Guo Jing pasti akan memaafkannya.

    Saat Guo Jing dan Hua Zheng mengobrol, tiba-tiba datang seorang tentara dan berkata “Hua Zheng, Ayahmu, Khan yang agung memanggilmu”. Tidak seperti orang Han, orang Mongol sangat simpel. Mereka tetap memanggil nama seseorang, walaupun yang dipanggil itu adalah seorang anak dari Khan.

    Hua Zheng menolak untuk menghampiri karena mereka akan membicarakan perjodohannya dengan Dukhsk. Hua Zheng sudah merasa terlalu dekat dengan Guo Jing sehingga dia tidak mau menikah dengan orang lain, tentu saja Guo Jing yang bodah tidak mengeri perasaannya. Akhirnya karena di beritahukan bahwa ayahnya akan marah jika dia tidak datang, akhirnya di terpaksa menurut.

    Malam harinya saat Guo Jing tertidur, dia mendengar suara tepukan diluar tendanya. Dia keluar dan ternyata bertemu dengan seseorang pendeta muda seumurunnya. Pendeta tersebut lalu bertanya apakah dia Guo Jing dan meminta bukti untuk diperlihatkan Pisau pemberian pendeta Qiu.

    Lalu setelah diperlihatkan, orang itu lalu menyerang Guo Jing. Guo Jing lalu menghidar dan bertanya mengapa dia diserang, orang tersebut menjawab bahwa dia hanya mengetes kemampuan Guo Jing. Guo Jing akhirnya merasa marah, dan merekapun bertarung dengan serius. Pertarungan ini adalah pertarungan pertama Guo Jing dengan menggunakan Kung Fu, dan lawan dia juga memiliki kungfu yang cukup tinggi. Akhirnya Guo Jing merasa kewalahan melawan Pendeta muda tersebut.

    Tetapi tiba-tiba muncul suara, “Serang bagian bawah tubuhnya!”. Keenam gurunya datang dan memberikan petunjuk. Guo Jing bangkit kembali dan menyerang. Musuhnya mulai terdesak dan lalu terjatuh. Guo Jing lalu menyerang, tetapi ternyata Pendeta tersebut hanya berpura-pura terdesak, dan Guo Jing yang kurang pengalaman akhirnya langsung di hajar dan dikalahkan.

    Melihat Guo Jing kalah, keenam gurunya lalu mengelilingi pendeta muda tersebut. Dia lalu berkata bahwa dia bernama Yin Zhiping (Penggemar Return Of Condor Heroes pasti kenal sama neh orang, walau munculnya disini, tapi peran dia lebih banyak nongol di novel berikutnya) dan dia diutus oleh gurunya, Chang Chun Zi (Si Musim Semi Abadi) Pendeta Qiu Chuji. Dia lalu menyampaikan pesan dari Gurunya tersebut, bahwa Pendeta Qiu telah menemukan anak Yang Xientin 9 tahun yang lalu, dan dia juka mengucapkan duka cita atas kematian Zhang Ahsheng. Dia juga mengingatkan mereka tentang perjanjian untuk mengadu ilmu Guo Jing dan Yang Kang 2 tahun lagi.

    Di surat itu juga dipastikan bahwa Yang Kang telah lahir dengan sehat dan Yang Kang juga merupakan Seniornya dan kungfunya juga jauh lebih baik dari dirinya.

    Yin Zhiping walau muda tetapi sangat arogan, dia merasa partainya adalah yang terbaik. Selesai membaca surat tersebut, Ke Zhen’E menyuruh Yin Zhiping pergi, dan mengembalikan serangan yang Yin berikan kepada Guo Jing. Yin pun terjatuh dan lalu pergi.

    Ke Zhen’E lalu menyuruh Guo Jing untuk tidur. Dia merencakan latihan yang lebih keras untuk Guo Jing, karena tampaknya, Yang Kang jauh lebih berbakat dari Guo Jing.

    Guo Jing akhirnya mendapat latihan yang lebih keras dari gurunya. Tetapi karena Guo Jing bodoh, dalam waktu 3 bulan setelah kedatangan Yin Zhiping, kemampuannya sama sekali tidak meninggkat, dan malah menurun karena latihan yang dia alami begitu berat dan cepat sehingga otaknya tidak mampu mengikutinya.

    Han Xiayoing saat ini sedang melatih Guo Jing. Untuk mempelajari jurus Pedang Perawan Yue dia harus mampu melompat tinggi, tetapi lompatan Guo Jing sangat rendah, ilmu meringankan tubuhnya boleh di bilang sangat payah. Dan walau akhirnya Guo Jing mampu loncat dengan tinggi, dia tidak mampu mendarat dengan baik.

    Han Xiayoing sangat kecewa dengan Guo Jing. Setelah sekian lama di padang rumput, dan bahkan dia harus kehilangan Zhang Ahsheng, hasil dari latihan Guo Jing sungguh mengecewakan. Dia lalu menangis sambil menutupi wajahnya dan pergi.

    Guo Jing mencoba mengejarnya, tetapi tidak berhasil. Guo Jing sangat sedih dan kecewa pada dirinya sendiri, karena dia telah mengecewakan guru-gurunya.

    Hua Zheng tiba-tiba datang menghampiri Guo Jing. Dia mengajaknya untuk melihat Elang yang sedang bertarung. Awalnya Guo Jing menolak, tetapi setelah dibujuk-bujuk Hua Zheng akhirnya dia menurutinya dan ikut Hua Zheng melihat pertarungan Elang tersebut.

    Pertarungan Elang tersebut disaksikan banyak orang dari banyak suku, bahkan Temujinpun datang ditemani dua anaknya, Odegai dan Tolui. Dua Elang putih dikerubuti oleh beberapa Elang hitam, tetapi Elang putih itu berhasil mengalahkan hampir semua Elang Hitam.

    Tetapi jumlah Elang Hitam yang banyak membuat dua Elang Putih itu kewalahan dan akhirnya terjatuh. Hua Zheng lalu meminta ayahnya dan Guo Jing untuk menolong Elang Putih tersebut dengan memanah Elang Hitam yang menyerangnya. Temujinpun menuruti dan memanah salah satu Elang Hitam. Satu Elang Hitam terjatuh. Odegai dan Tolui lalu juga memanah mereka, dan masing-masing berhasil membunuh satu Elang Hitam.

    Elang Hitam yang tersisapun panik dan terbang sangat tinggi sehingga sangat sulit untuk memanahnya. Temujin lalu berkata, hadiah bagi mereka yang bisa memanah Elang Hitam tersebut. Jebe yang ada ditempat lalu meminta muridnya Guo Jing untuk memanah Elang tersebut. Guo Jing lalu menurutinya dan lalu mengambil posisi sempurna untuk memanah. Lalu anak panahpun dilepas, dan hasilnya, dengan satu panah Guo Jing berhasil membunuh dua Elang Hitam sekaligus.

    Hua Zheng lalu berbisik kepada Guo Jing, “Serahkan dua elang tersebut, dan minta hadiah dari ayahku”.

    Temujin memuji kehebatan Guo Jing. Lalu Tolui berkata, “Ayah bukankah kau akan memberikan hadiah kepada yang berhasil memanah Elang tersebut? Sodara angkatku membunuh dua sekaligus, hadiah apa yang akan kau berikan?”.

    “Apa saja yang dia inginkan”, jawab Temujin tersenyum. “Guo Jing apa yang kau inginkan?”.

    Guo Jing berkata, “Khan sangat baik padaku dan ibuku punya segala sesuatu yang kami butuhkan, aku tidak perlu hadiah…”.

    Temujin lalu memuji betapa berbaktinya Guo Jing kepada ibunya dan bagaimana dia selalu menempatkan kepentingan ibunya diatas kepentingannya sendiri. Lalu Temujin meminta Guo jing untuk meminta sesuatu bukan untuk ibunya, tetapi untuk dirinya sendiri.

    Guo Jing lalu berkata, dia tidak ada keinginan untuk dirinya sendiri, tapi dia punya keinginan untuk orang lain. Temujin bertanya apa itu, Guo Jing lalu menjawab, “Dukhsh, anak Senggum adalah orang jahat dan kejam. Jika Hua Zheng menikahinya, Dia tidak akan bahagia. Aku minta Khan untuk membatalkan pernikahan tersebut.”.

    Temujin tampak marah awalnya, tetapi kemudian tertawa. Hal yang diminta Guo Jing seperti permintaan anak-anak. Lalu Temujin memberikan Pisau Emas miliknya kepada Guo Jing. Pisau itu adalah pisau favorit Temujin yang telah dibawa dia kemana-mana selama perperangan. Setelah memberikan pisau emas tersebut Temujinpun pergi.

    Setelah tempat tersebut sepi, Guo Jing kemudian berlatih kembali. Hua Zheng duduk tidak jauh dari tempat Guo Jing berlatih. Kemudian dia mendekatinya dan menyeka keringat Guo Jing. Lalu Hua Zheng bertanya kenapa Guo Jing meminta agar dirinya tidak dinikahkan dengan Dukhsh.

    Guo Jing menjawab bahwa Dukhsh adalah orang kejam, dan waktu kecil dia hampir membunuh dirinya, Tolui dan Hua Zheng. Dia takut Dukhsh akan menganiaya Hua Zheng jika nantinya mereka dinikahkan.

    Lalu Hua Zheng dengan wajah malu-malu bertanya, jika Dukhsh tidak menikahinya, lalu siapa yang akan menikahinya. Guo Jing menjawab tidak tau. Hua Zheng kesal mendegar jawaban tidak tau Guo Jing lalu berkata dengan marah, kau tidak akan pernah mengerti apa-apa.

    Beberapa bulan kemudian, Guo Jing dan Hua Zheng baikan lagi. Mereka merawat dua Elang Putih yang terluka waktu itu. Tetapi salah satu elang tersebut akhirnya tidak tertolong. Melihat pasangannya mati, elang yang satu lagipun terbang tinggi dan menabrakan kepalanya ke tembok dan lalu ikut mati menyusul pasangannya.

    Tiba-tiba terdengar suara, “Mengagumkan… mengagumkan…”.

    Lalu muncul seorang Pendeta yang sangat tua dari atas bukit. Ia berkata bahwa dua anak elang tersebut kini kehilangan orang tuanya, bagaimana mereka akan bertahan hidup nantinya, sambil tangannya menunjuk keatas puncak bukit.

    Guo Jing lalu berusaha naik ke bukit tersebut, tetapi bukit tersebut terlalu curam dan tinggi sehingga usahanya menuju puncak selalu gagal. Pendeta tersebut lalu meloncat, dan dengan mudah dia bisa sampai kepuncak bukit. Lalu dia menolong dua anak elang tersebut, dan lalu membawanya turun dan memberikannya pada Hua Zheng. Lalu dia meminta Guo Jing dan Hua Zheng untuk merahasiakan kemunculan dirinya dari orang-orang.

    Hua Zheng lalu pergi dengan untuk mencarikan makanan untuk kedua anak elang tersebut. Sementara Guo Jing lalu berkata pada Pendeta tersebut bahwa dia ini adalah anak yang bodoh dan selalu mengecewakan gurunya. Lalu Pendeta tersebut bertanya, apakah Guo Jing ingin diberikan petunjuk untuk meringan tubuh, dan Guo jing pun mengangguk.

    Lalu Pendeta tersebut berkata kepada Guo jing untuk menemui dia tiga hari lagi di puncak bukit pada malam hari. Guo Jing berkata bahwa dia mungkin saja tidak akan berhasil naik ke puncak, tetapi pendeta tersebut mendiamkannya saja dan lalu pergi.

    Tiga hari kemudian Guo Jing kembali ke bukit tersebut. Dia lalu mulai memanjat Bukit tersebut. Dengan kedua pisaunya, sebagai tempat berpegangan, perlahan-lahan dia mulai naik. Tetapi sekeras apapun usah Guo Jing, tampaknya sia-sia karena ia jatuh berkali-kali. Tetapi Guo Jing tidak pernah menyerah dan terus mencoba naik ke atas.

    Akhirnya di bagian atas bukit dia melihat ada tali. Pendeta tersebut melihat usaha Guo jing akhirnya memberikan tali untuknya. Dia lalu menyuruh Guo Jing untuk mengikat tubuhnya dengan tali tersebut dan lalu menarik Guo Jing keatas.

    Guo Jing mengucapkan terima kasih. Pendeta tersebut berkata bahwa dia tidak akan menjadi guru Guo Jing, dia hanya akan memberikan petunjuk saja.

    Pendeta tersebut bertanya, mengapa selama 10 tahun berlatih dia tidak punya progress sama sekali dalam kungfu.

    Guo Jing menjawab karena dia terlalu bodoh.

    Lalu pendeta tersebut menjawab bahwa hal ini bukan kesalah Guo Jing. Pendeta tersebut berkata, “Seperti kata orang-orang, jika mereka yang mengajar tidak mengetahui cara mengajar, maka mereka yang belajar tidak akan mendapat pelajaran apapun!”.

    Guo Jing lalu berkata dia tidak mengerti perkataan tersebut.

    Pendeta tersebut menjawab, “Jika kita hanya melihat ke inti dari ilmu beda diri, Level yang kau telah kau capai saat ini bukanlah tidak berarti. Dipertandingan pertamamu sejak kau menerima latihan, saat kau dikalahkan oleh Pendeta muda, kau mempertanyakan kemampuan dirimu dan menganggap bahwa tidak mungkin bagimu untuk mengalahkan Dia. Tetapi sampai kepada point ini, kau benar-benar salah.

    Pendeta muda itu mengalahkanmu dengan trik. Tetapi jika dalam teknik basik, tidak pasti apakah dia kemampuannya benar-benar sudah diatasmu. Pendeta ini lalu bertanya, apakah Guo Jing tau tentang janji antara gurunya dengan Pendeta Qiu, Guo Jing menjawab tidak tau. Pendeta tersebut karena tidak ingin mencampuri urusan 6 Pendekar Jiangnan lalu tidak membicarakan lagi janji tersebut dan hanya menjelaskan bahwa gurunya punya janji tersebut dan jika dia mengajarkan bela diri kepada Guo Jing maka gurunya akan sedih. Maka Pendeta tersebut memutuskan bahwa ia tidak akan mengajarkan Guo Jing bela diri, tetapi ia akan mengajarkan Guo Jing metode bernapas, duduk, berjalan dan tidur.

    Guo Jing yang bodoh bingung dengan perkataan Pendeta tersebut, karena untuk bernapas, duduk, berjalan dan tidur dia sudah bisa, tidak perlu diajarkan, tetapi karena Guo Jing adalah orang yang hormat kepada Senior, maka dia tidak mengatakan apa-apa.

    Pendeta tersebut kemudian memberikan instruksi-instruksi kepada Guo Jing. Awalnya dia mengalami kesulitan dalam mengikuti metode yang di berikan pendeta tersebut, karena cara bernafasnya tidak biasa ia lakukan. Tetapi setelah lama mencoba, akhirnya ia berhasil mengikuti metode bernafasnya. Setelah itu Pendeta tersebut menyuruh Guo Jing tidur dan Guo Jingpun tertidur.

    Setelah itu setiap malam Guo Jing secara diam-diam terus berlatih dengan Pendeta tersebut di malam hari. Tiap malam ia harus memanjat bukit yang tinggi dan berlatih bernapas dengan pendeta tersebut, tetapi Pendeta tersebut meminta Guo Jing untuk merahasiakan latihan tersebut kepada siapapun, bahkan kepada gurunya. Dua tahun telah berlalu, waktu perjanjian Pendeta Qiu dengan 6 Pendekar Jiangnan semakin dekat. Guo Jing sekarang bisa menaiki bukit tersebut tanpa perlu bantuan tali dan kemampuan kungfu Guo Jing sudah jauh meningkat dari sebelumnya. Guru-gurunyapun merasa bahwa dengan kecepatan Progress Guo Jing yang seperti saat ini, mereka yakin Guo Jing akan menang nantinya jika diadu melawan Yang Kang, tetapi sampai saat ini mereka belum memberitahukan Guo Jing tentnang perjanjian tersebut.

    Pagi ini Nan Xiren yang merasa Guo Jing telah menguasai bertarung dengan senjata memutuskan untuk mengajarkan dia jurus tangan kosong. Di tengah latihan mereka melihat sekumpulan kuda liar berlarian, dan diantara kuda liat tersebut ada satu kuda merah kecil yang berjalan dengan sangat cepat. Karena sangat cepatnya gerakan kuda itu, salah seorang pengembala kuda dari mongol berkata bahwa kuda tersebut merupakan penjelmaan naga dari langit.

    Han Baoju yang dikenal sebagai Dewa Kuda memutuskan untuk menjinakan Kuda tersebut, tetapi karena larinya sangat cepat, ia tidak mampu menyusul kuda tersebut. Tetapi, Guo Jing yang posisinya lebih jauh darinya mampu berlari dan menyusul kuda tersebut, dan lalu duduk di atas kuda tersebut. Mereka terkagum-kagum bagaimana neigong (ilmu meringankan tubuh) Guo Jing bisa begitu hebat. Tentu saja mereka bingung, karena mereka tidak tau latihan Guo Jing dengan seorang Pendeta di bukit selama dua tahun terakhir ini.

    Walau sudah berhasil duduk diatas kuda, tetapi Guo Jing tetap mengalami kesulitan untuk menjinakan kuda tersebut. Han Baoju lalu memberikannya instruksi tentang cara menjinakkan kuda tersebut. Akhirnya Guo Jing berhasil menjinakan kuda tersebut, dan kuda tersebut akan mengikuti Guo Jing seumurhidupnya.

    Setelah makan siang, Quan Jinfa mengajak Guo Jing untuk latih tanding. Karena hormat kepada gurunya, maka Guo Jing tidak berani membuat serangan terlebih dahulu. Quan Jinfa lalu menyerang Guo Jing, tetapi jurus yang dikeluarkan bukanlah dengan kekuatan untuk sekedar berlatih, tetapi dengan kekuatan penuh yang bisa saja membunuh Guo Jing. Guo Jing mampu menghindar dengan neigong-nya dan ternyata jurus neigong inilah yang ingin diliahat Quan Jinfa.

    Guo Jing menyadari hal tersebut, kemudian sujud lalu berkata bahwa dia pasti melakukan kesalahan dan minta untuk dihukum. Tetapi Guo Jing memang bodoh dan belum sadar akan kesalahan apa yang dia lakukan, dia hanya tau bahwa jika gurunya mengeluarkan jurus yang bisa membunuhnya, sudah tentu dia pasti telah melakukan kesalahan.

    Ke Zhen’E dan gurunya yang lain lalu bertanya, “Dengan Siapa kau berlatih? Mengapa menyembunyikan hal tersebut dari kami”.

    Guo Jing menjawab bahwa hanya ada Jebe yang melatih dia memanah dan jurus tombak.

    Ke Zhen’E menuduhnya berbohong dan Guo Jingpun mulai menitikan air mata sambil berkata bahwa dia tidak berbohong.

    “Lalu dari mana kau menguasai neigong?” tanya gurunya.

    Neigong?, aku tidak bisa neigong” jawab Guo Jing.

    Zhu Cong yang kesal dengan muridnya lalu menyerang Guo Jing, dan sekali lagi tanpa sadar Guo Jing menggunakan neigong-nya untuk menghindar. “Dan itu bukan neigong?” kata Zhu Cong dengan kesal.

    “Apakah pendeta tersebut telah mengajarkan aku neigong?” pikir Guo Jing dalam hati.

    Sadar akan hal tersebut Guo Jing lalu sujud dan berkata kepada gurunya, “Dalam 2 tahun terakhir ini, tiap malam aku ada seorang Pendeta yang melatihku bernapas, duduk bermeditasi dan tidur. Tetapi aku sama sekali tidak diajari jurus apapun. Karena ia meminta untuk merahasiakan hal ini dan aku merasa hal ini tidak ada hubungannya dengan latihan kungfu, maka aku tidak membicarakan hal ini dengan Guru semua. Aku tau akan kesalahanku sekarang, aku tidak akan menemui dia lagi.”

    Gurunya merasa Guo Jing berkata jujur lalu bertanya apakah Guo Jing tau apa itu neigong.

    Guo Jing berkata tidak tau, pendeta tersebut hanya meminta dia duduk bermidatasi dan bernapas secara sedemikan rupa.

    Lalu gurunya menanyakan nama pendeta tersebut dan Guo Jing menjawab, “Dia tidak mau mengatakan namanya, tetapi dia berkata bahwa kungfunya tidak lebih tinggi dari kungfu guru. Oleh karena itu dia tidak akan mengajarkan aku jurus-jurus dan dia memintaku bersumpah untuk tidak mengatakan apapun tentang dirinya kepada orang lain”.

    Guo Jing lalu berkata dia tidak akan menemui pendeta terserbut lagi, tetapi Gurunya berkata bahwa dia boleh menemui Pendeta tersebut tetapi dia tidak perlu memberitahukan kepada pendeta tersebut bahwa gurunya telah tau tentang dirinya.

    Setelah itu Guo Jingpun pergi, dan Hua Zhengpun menemuinya. Hua Zheng dan Guo Jing lalu pergi berlarian dengan kedua Elang mereka menaiku kuda Guo Jing yang baru saja ia jinakan.

    Mantab-mantab, chapter 5 selesai.

    Kalo ada tulisan yang salah, gak nyambung, ancur dan lain-lain infoin ya di comment, maklum gw abis nulis gak di cek lagi dan nulisnya juga gak terus-terusan, tergantung mood, jadi bisa aja satu paragraf di tulis jam 1, paragraf berikutnya di tulis jam 2, jadi mungkin ada yang kelewatan.

    Wekekkeek

    5 Responses to “Ringkasan Novel Legend Of Condor Heroes : Chapter 5”

    1. Pembaca Budiman Says:

      Om, thank you ya, tapi terusannya mana neh
      penasaran tau

      jangan lama-lama ya

      Thanks

    2. admin Says:

      Chapter 6 nya sudah bisa dinikmati pak, di http://johanfirdaus.zo-ka01.com/2008/07/ringkasan-novel-legend-of-condor-heroes-chapter-6/

      uhuhuhu

    3. Pembaca Budiman Says:

      Sep, makasih om

      menuju TKP neh

    4. tolahtoleh.com Says:

      busetr,…..
      panjang amir,…. :hammer:

    5. admin Says:

      hihihi

      iya bos, abis kalo gak panjang banyak yg kelewat ceritanya

      huhuhu

    Leave a Reply